Cinta Sahabat….

Posted: May 23, 2011 in Novel

PART 1

Berawal dari ketidaksengajaan saat mereka masih duduk dibangku SMA dulu, membuat Silva dan Febi menjadi pasangan sahabat yang selalu kompak dan akrab. Febi yang memiliki sifat lebih maskulin daripada Silva alias sedikit tomboy, pernah menolong Silva saat ia sedang diganggu oleh para lelaki usil dijalanan. Sejak itu mereka menjadi semakin dekat. Silva yang lebih anggun memiliki jiwa perasa yang lebih dalam dibanding dengan Febi. Namun perbedaan itu tidak membuat mereka sulit untuk tetap mempertahankan persahabatan mereka hingga saat ini, saat mereka harus melepas status mereka sebagai pelajar dan menyandang status baru sebagai mahasiswi.

Merekapun sepakat untuk memilih Perguruan Tinggi yang sama, meskipun mereka harus rela untuk meninggalkan keluarga mereka dan bersiap untuk dunia baru mereka sebagai mahasiswi yang harus tinggal jauh dari orang tua.

Tidak hanya Silva dan Febi yang sudah mengenal satu sama lain, orang tua mereka juga sudah saling mengenal. Bahkan setiap kali Febi ke rumah Silva, mamanya Silva selalu memperlakukan Febi seperti anaknya sendiri.

Tahun pertama mereka sebagai mahasiswi dilewati dengan segala hal baru yang membuat mereka lebih mengenal dengan lingkungan baru mereka. Meski bersahabat, bukan berarti antara Silva dan Febi tak pernah ada perbedaan pendapat. Apalagi saat mereka mengenal dunia kampus, perbedaan pendapat mengenai cara hidup, berteman bahkan cowok sering menjadi topik pembahasan mereka. Namun perbedaan itu bisa mereka atasi dengan saling mengerti antara satu sama lain.

Yang paling sering menjadi bahan perdebatan mereka adalah soal penampilan. Silva lebih peduli untuk soal penampilan, sedangkan Febi lebih cuek. Terkadang Silva tidak segan-segan untuk memprotes

soal penampilan sahabatnya itu, karena menurutnya tidak bagus dan terlalu cuek. Febi hanya menerima protesnya Silva walaupun awalnya harus perang mulut dulu karena kebawelan Silva. Meski demikian, Febi merasa senang karena sahabatnya perduli akan dirinya dan sangat memperhatikan dirinya.

Belakangan Febi melihat ada yang aneh dengan penampilan Silva. Meski ia tau memang Silva lebih peduli untuk soal itu, tapi untuk kali ini ia lihat ada perbedaan dari biasanya. Kalau mau ke kampus, Silva dandan lebih lama dari biasanya. Awalnya Febi merasa mungkin itu hanya perasaannya saja, namun semakin hari ternyata hal itu semakin nyata ia lihat. Ia pun memberanikan dirinya untuk bertanya langsung pada Silva.

“Sil, kamu kenapa sih? Akhir-akhir ini aku perhatikan kalau dandan lama bener?” tanya Febi.

“Masa’ sih? Biasa aja kali..!” jawab Silva cuek.

“Iya…ada apa sih?”

“Udah ah, yuk berangkat!” ajak Silva.

Febi hanya diam dan langsung mengikuti langkah Silva dari belakang. Pikirannya masih bingung dengan perubahan penampilan sahabatnya itu. Tapi Silva tetap belum mau cerita soal itu. Febi pun semakin bingung, tidak biasanya Silva jadi tertutup seperti ini kepada dirinya.

Semakin hari sikap Silva semakin aneh. Ia menjadi tertutup pada Febi. Bahkan sekarang ia sering keluar sendiri tanpa Febi. Setiap kali Febi bertanya dari mana dirinya, Silva selalu menjawab “Ada aja…!”

Febi termasuk orang yang paling tidak bisa menyimpan rasa penasaran. Akhirnya ia memutuskan untuk mengikuti Silva diam-diam kalau nanti Silva keluar lagi. Suatu malam saat Silva pamit pada Febi mau keluar,

maka Febi buru-buru mengikutinya dari belakang tanpa sepengetahuan Silva. Ternyata Silva pergi dengan seorang cowok, teman kampus mereka juga.

“Sil, sekarang kamu jujur deh! Tadi kamu pergi sama siapa?” tanya Febi ketika Silva sudah pulang.

“Idih..kenapa sih sewot gitu?” tanya Silva balik sambil senyum-senyum.

“Kamu tuh biasanya selalu terbuka sama aku, kok sekarang jadi penuh rahasia gini sih?”

“Bukan rahasia sayang…tapi belum saatnya aku ngomong..!”

“Kamu jalan sama cowok kan?”

“Hah? Siapa yang bilang?”

“Gak ada yang bilang, tapi aku lihat sendiri tadi!”

“Idih, kamu ngintip ya? Rese’ amat sih?”

“Biarin, siapa suruh kamu gak mau bilang? Sil, kita kan udah lama temenan, masa’ kamu gak percaya sih sama aku? Kenapa sih kamu gak mau cerita sama aku?” tanya Febi dengan muka sedihnya.

“Bi, bukannya gitu..” ucap Silva yang memang selalu memanggil nama Febi dengan sebutan ‘bi

“Siapa cowok itu Sil?” tanya Febi lagi.

“Teman kampus kita juga..”

“Iya tapi siapa?”

“Dion!” jawab Silva.

“Dion???” ucap Febi sedikit kaget.

“Iya, kok kaget gitu sih? Emangnya ada apa?”

“Dia suka sama kamu?” tanya Febi lagi.

“Kayaknya sih gitu, tapi dia emang belum nembak aku!”

“Kamu suka juga sama dia?”

“Hmmm…aku gak tau bi..”

“Loh kok gak tau sih?”

“Aku belum yakin aja!”

“Sil, kamu kan tau Dion itu cowok kayak apa! Kita kan sering dengar cerita negatif tentang dia, kamu tau itu kan?”

“Itu kan cuma ceritanya aja Bi! Kan belum tentu benar!” ucap Silva membela Dion.

“Tapi banyak yang bilang gitu Sil! Dion itu cowok gak bagus! Masa’ sih kamu suka sama cowok yang kayak gitu?”

“Aku kan gak ada bilang kalau aku suka!”

“Kalau kamu gak suka kenapa kamu mau pergi sama dia?”

Silva hanya diam mendengar pertanyaan sinis dari Febi.

“Sil, bukannya aku gak senang kalau kamu jalan sama cowok, tapi kamu harus lihat-lihat dulu siapa orangnya donk! Jangan mau ketipu sama mulut manis cowok!” ucap Febi lagi.

“Iya aku tau…lagian kan aku belum tentu suka sama dia! Aku pengen tau aja apa bener yang orang-orang omongin tentang dia!”

“Ya udah deh terserah kamu aja! Yang jelas, kamu harus hati-hati sama dia!”

“Siip boss!!”

Dion memang dikenal sebagai mahasiswa yang kurang baik dimata sebagian orang. Ia tergolong mahasiswa yang malas, suka buat ribut, bahkan ada segelintir orang mengatakan bahwa Dion juga pemakai narkoba, meskipun hingga kini belum ada suatu hal yang dapat membuktikan kebenaran cerita itu.

Wajar saja Febi menjadi sangat khawatir melihat sahabatnya dekat dengan seorang Dion. Namun apa yang dikatakan Silva kepadanya, juga ada benarnya. Semua cerita yang mereka dengar tentang Dion belum tentu benar, karena mereka sendiri belum pernah melihat secara langsung tentang segala keburukan Dion itu.

“Bi, ntar kamu pulang sendiri aja ya, aku mau pergi sebentar!” ucap Silva esoknya saat mereka sedang berada di kampus.

“Pergi sama Dion lagi?” tanya Febi.

“Hmmm…iya! Gak pa-pa kan?”

“Ya udah, tapi kamu hati-hati ya!”

“Okey..”

Semakin hari, Febi melihat justru Silva semakin dekat dengan Dion. Ia menangkap sinyal bahwa sepertinya Silva juga menyukai Dion. Rasa kekhawatirannya pun semakin besar. Karena sebagian teman-teman kampusnya kini bahkan menyayangkan kedekatan Silva dengan Dion. Beberapa cerita negetif itu bukannya berkurang, namun justru semakin bertambah yang masuk ke telinga Febi. Setiap kali Febi berusaha untuk bicara baik-baik dengan Silva, tapi Silva selalu membela Dion. Entah mengapa, Silva begitu yakin bahwa apa yang diceritakan orang-orang tentang Dion itu tidak benar.

“Sil, kamu yakin Dion tidak seperti itu?”

“Aku yakin Bi! Sejak aku dekat sama dia, aku gak pernah melihat hal-hal yang aneh dari dia, justru ia kelihatannya orang yang baik juga perhatian banget sama aku!” jawab Silva.

“Bukannya setiap cowok emang begitu? Selalu berusaha bersikap manis untuk mendapatkan apa yang diinginkannya! Setelah itu…”

“Bi, kamu jangan sentimen gitu donk sama cowok!” potong Silva.

“Bukannya sentimen, tapi itu semua berdasarkan realita!”

“Ya tapi kan tidak semuanya seperti itu!”

“Termasuk Dion??” tanya Febi.

“Hmm..bisa jadi begitu! Gak tau kenapa, aku justru merasa nyaman aja dekat sama dia, dia perhatian banget ke aku dan yang paling penting, dia itu bisa melindungi aku!”

“Kayaknya kamu udah mulai jatuh cinta deh sama dia!”

“Emangnya salah kalau aku suka sama dia?”
”Kamu gak mau nyari tau dulu tentang siapa dia sebenarnya? Kamu kan baru kenal sama dia Sil!!”

“Udahlah Bi! Aku yakin kok dia tulus sayang sama aku!”

“Hah?? Jadi dia udah nembak kamu?” tanya Febi kaget.

“Udah…” jawab Silva pelan.

“Terus kamu jawab apa?”

“Aku belum jawab apa-apa!”

“Kok kamu gak cerita sih ke aku?”

“Nah, inikan aku baru mau cerita! Makanya dengerin dulu donk non!”

Febi merasa sedikit kecewa karena ia pikir Silva sengaja menutupi hal itu pada dirinya. Jauh di dasar hatinya, sebenarnya ia tidak setuju kalau sahabatnya itu harus pacaran dengan Dion. Tapi kalau sudah hati yang bicara, iapun tak dapat berbuat apa-apa.

“Bi, aku sendiri masih ragu dengan perasaanku! Satu sisi aku memang merasa nyaman jalan sama dia, aku suka tapi aku juga gak bisa menutupi semua yang aku dengar tentang dia! Makanya aku sengaja membiarkan dia mendekati aku, dan aku juga sebaliknya seperti itu supaya aku bisa tau tentang siapa dia sebenarnya. Dan ternyata selama aku dekat dan sering jalan sama dia, aku gak menemukan hal-hal yang aneh dari dia! Kamu ngerti kan?”

“Ya aku ngerti…!” jawab Febi pelan.

Keduanya saling diam dan larut dalam pikirannya masing-masing.

“Kamu sayang sama dia?” tanya Febi tiba-tiba.

“Mungkin aku udah salah karena membiarkan dia mendekati aku!”

“Maksud kamu?”

“Gak taulah Bi! Aku kok merasa takut jauh dari dia!”

Febi hanya menganguk-anggukkan kepalanya mendengar jawaban dari Silva.

“Kenapa Bi?” tanya Silva.

“Memang perasaan gak kan pernah bisa bohong! Itu tandanya kamu memang udah mulai suka sama dia!”

“Terus, aku mesti gimana Bi?”

“Ya semuanya kembali ke diri kamu! Aku gak kan bisa melarang kamu Sil! Walau sebenarnya aku masih kurang yakin dan kurang setuju kalau kamu jadian sama Dion!”

Silva menarik nafas dan menghenmbuskannya dengan panjang seraya membantingkan tubuhnya ke atas kasur. Ia benar-benar bingung dengan perasaannya sendiri.  Rasanya ia ingin sekali bisa selalu bersama Dion, tapi ia juga tidak ingin kehilangan kebersamaannya dengan Febi, sahabatnya yang paling ia cintai.

Sementara Febi, masih tetap merasa ada yang aneh dengan diri Dion sebenarnya. Ia berpikir bahwa ia akan mencari tau sendiri tentang siapa Dion. Karena ia benar-benar tidak ingin jika Silva suatu saat menjadi korban akan kebohongan Dion.

“Dion, aku bisa ngomong sebentar sama kamu?” tanya Febi esok harinya di kampus.

“Ya, ada apa ya?” tanya Dion.

“Sori, aku Febi, sahabatnya Silva!”

“Ya aku tau, Silva udah banyak cerita tentang kamu! Hmm…tapi Silva nya mana?”

“Dia masih di kos, tadi aku kemari gak bilang-bilang sama dia!”

“Oohh, kamu mau ngomong apa ya sama aku?”
Sejenak Febi memperhatikan tubuh Dion dari ujung rambut sampai ujung kakinya. Dion yang merasa diperhatikan seperti itu jadi risih sendiri.

Tapi emang kayaknya ni orang gak terlihat jahat kok! Malah ucapannya lembut banget, pantes aja Silva jadi kelelep gitu!’ bisik Febi dalam hati.

“Sori, tadi katanya mau ngomong sesuatu?” tanya Dion lagi.

“Eh iya…Gini yon, aku boleh nanya sesuatu kan sama kamu?”

“Ya boleh, tanya aja!”
”Apa bener kamu suka sama Silva?”

“Hmm…iya!”

“Kamu serius sama dia?”

“Maksud kamu?” tanya Dion gak ngerti.

“Maksud aku, kamu bukan cuma pengen mainin dia doank kan?”

“Ya nggaklah, masa’ iya aku seperti itu?”

“Yon, kalau kamu emang sayang sama Silva, tolong kamu benar-benar jaga perasaan dan hatinya, tolong jangan kamu kecewain dia! Kalau suatu saat aku dengar bahwa kamu nyakiti perasaannya, kamu bakal berhadapan langsung sama aku!” tegas Febi.

“Aku ngerti kok perasaan kamu Feb! Kamu sayang banget sama Silva, makanya kamu gak mau kalau ada orang yang nyakiti dia kan? Kekhawatiran kamu itu terlalu berlebihan Feb! Kamu tenang aja, aku bakal jagain dia kok!”

“Aku pegang ucapan kamu yon!”

Pertemuannya dengan Dion hari itu tidak ia ceritakan kepada Silva karena ia takut kalau Silva marah. Dan Febi pun berharap Dion juga melakukan hal yang sama.

Walau demikian, hal itu tidak membuat Febi menghentikan langkahnya untuk mencari tau tentang diri Dion yang sebenarnya.

Esok malamnya, Febi berada sendirian dikamar kosnya. Seperti biasa, lagi-lagi malam ini Silva pergi bersama Dion. Lalu Febi sedikit terkejut melihat Silva pulang dengan penuh senyum sambil tangannya mengenggam seikat bunga.

“Sil, kamu kenapa senyum-senyum gitu?”

“Hihihihi…ada deh!” jawab Silva usil.

“Kumat deh gilanya! Tuh bunga dapat dari mana?”

“Dari Dion!”

“Ooohhhh…”

“Bi, aku udah jadian sama Dion!” ucap Silva.

“APA?? Jadian?”

“Iya, kamu kok kaget gitu sih? Kamu gak senang ya?”

“Bukannya gitu, apa itu gak kecepatan Sil? Kamu kan…”

“Udah deh Bi, kita kan udah sering bahas soal itu!” potong Silva.

“Iya, tapi kan…”

“Bi, ngertiin aku donk untuk saat ini! Please..!”

“Hah?”

Febi jadi heran kenapa justru Silva jadi memohon seperti itu kepada dirinya.

“Ya udah deh, kalau itu emang bisa buat kamu lebih bahagia, ya terserah kamu!” jawab Febi akhirnya.

“Makasih ya bi! Aku janji deh, aku bakal ngeluangkan waktu aku buat kamu!”

“Iya, aku pegang janji kamu!”

‘Sil, bukan itu sebenarnya yang aku khawatirkan…’ bisik hati Febi.

Sejak Silva jadian sama Dion, Febi melihat sahabatnya itu memang lebih ceria dari biasanya. Ia sebenarnya juga bahagia jika sahabatnya juga bisa bahagia, meski sedikit kesedihan mampir juga dihatinya karena ia harus kehilangan banyak waktu untuk bersama dengan Silva.

Berita tentang kedekatan Silva dan Dion dengan cepat menyebar ke seluruh mahasiswa di kampus mereka. Banyak yang tidak percaya kalau Silva sudah pacaran dengan Dion. Beberapa mahasiswa bahkan sangat menyayangkan mengapa cewek secantik Silva mau pacaran dengan Dion yang memiliki predikat negatif dikampusnya.

“Feb, Febi!!” panggil salah seorang teman kampus Febi.

“Ada apa?”

“Eh Feb, emang bener ya Silva udah jadian sama Dion?”

“Emangnya kenapa sih kalau mereka udah jadian?” tanya Febi balik.

“Ya gak apa-apa sih! Tapi sayang kan Silva nya! Kamu kan udah dengar Dion itu cowok seperti apa?”

“Ya udahlah, itukan urusan mereka, bukan urusan kita!”

“Kenapa ya Silva mau sama cowok kayak Dion gitu?”

“Udah deh, daripada kamu itu ngurusin urusan orang, mending urus aja urusan sendiriya!” jawab Febi sambil melangkah pergi.

Sebenarnya Febi merasa kesal karena sahabatnya menjadi bahan pembicaraan banyak orang akhir-akhir ini. Tapi itu semua mungkin sudah menjadi bagian dari resiko yang harus Silva terima sejak ia memutuskan untuk menerima Dion menjadi pacarnya.

***

Bulan-bulan pertama Silva pacaran dengan Dion sepertinya berhasil dilewati dengan lancar oleh keduanya. Silva justru merasa semakin sayang dengan Dion karena Dion sangat perhatian kepada dirinya.

“Gimana hubungan kamu sama Dion?” tanya Febi suatu hari.

“Baik! Bener kan aku bilang, semua yang kita dengar tentang Dion ternyata tidak benar! Dia orangnya baik banget kok Bi!”

“Kamu yakin?”

“Ya iyalah!”

“Ya mudah-mudahan akan terus seperti itu! Eh Sil, besok temani aku ke toko buku yuk!” pinta Febi.

“Besok? Aduh sori banget Bi, aku besok udah ada janji sama Dion!”

“Kayaknya tiap hari kamu ada janji terus deh sama Dion!” jawab Febi sinis.

“Jangan sinis gitu donk! Kita cari waktu lain aja ya!”

“Gak usah deh, aku perlunya besok! Aku bisa pergi sendiri kok!”

Febi langsung melangkah pergi meninggalkan Silva yang masih terdiam di kamar kos mereka. Akhir-akhir ini memang ia merasa sangat jauh dengan Febi. Itu karena kebanyakan waktunya ia habiskan bersama Dion. Kesempatannya untuk bersama Febi hanya bisa ia dapatkan saat ia sedang berada di kos. Silva merasa bersalah kepada Febi.

PART 2

Malam itu Febi berbaring sendirian diatas kasurnya. Pandangannya membentang jauh entah kemana. Saat-saat seperti itu ia sangat merindukan kehadiran Silva didekatnya. Silva kini semakin jauh darinya. Namun ia merasa tidak layak untuk menghalangi kebahagiaan sahabatnya itu. Lalu ia bangkit dari tidurnya dan berjalan menghampiri kursi di meja belajarnya. Tiba-tiba pandangannya terhenti pada sebuah kalender yang terletak diatas meja itu. Ia lalu meraih kalender itu dan melihat sebuah tanggal yang sebantar lagi akan tiba. Tanggal kelahiran sahabatnya.

“Hah? Sebentar lagi Silva ulang tahun…ya ampun hampir aja aku lupa! Aku kasih hadiah apa ya buat dia?” tanya Febi untuk dirinya sendiri.

Tiba-tiba ia mendapat ide untuk memberikan sebuah kejutan kecil untuk Silva nanti. Mulai esok hari, Febi sudah mulai melakukan persiapan untuk kejutan yang akan ia berikan kepada Silva saat ulang tahunnya nanti. Semua ia lakukan sendiri tanpa sepengetahuan siapa pun. Ia juga tidak lupa memesan sebuah kue tart mini di toko kue. Rencananya ia akan memberikan kejutan kecil itu tepat pada pukul dua belas malam. Jadi ia akan menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun kepada sahabatnya itu.

Hari yang dinantikan pun tiba. Hari ini tepat pukul dua belas malam nanti ia akan memberikan kejutan itu kepada Silva. Sejak jam delapan malam Silva sudah pergi bersama Dion. Febi sengaja tidak tidur untuk menunggu jam menunjukkan ke angka dua belas. Namun hingga jam sepuluh malam, Silva belum juga pulang ke kos. Febi mulai khawatir, sementara waktu terus berputar dan kini jam di dinding kamarnya telah menunjukkan ke angka sebelas. Tetapi Silva tetap saja belum muncul dihadapannya.

Lima belas menit lagi menjelang pukul dua belas malam, Silva yang ditunggu-tunggu tetap saja belum kembali ke kos. Perasaan Febi kini menjadi tidak karu-karuan. Resah, khawatir bercampur sedih kini sedang berkecamuk didalam hatinya. Tidak biasanya Silva belum pulang hingga selarut ini. Bahkan Silva juga tidak memberikan kabar apapun kepada dirinya.

Jam di dinding itu kini telah menunjukkan tepat ke angka dua belas. Febi hanya bisa tertunduk pasrah melewati pergantian hari itu. Perlahan ia nyalakan lilin yang ada diatas kue tart dan membiarkannya hidup untuk beberapa saat. Lalu Febi meraih ponselnya untuk berusaha menghubungi Silva. Namun ternyata hp Silva tidak aktif. Ia kembali tertunduk sedih. Air matanya tiba-tiba menetes dari kedua pelupuk matanya. Ia memutuskan untuk menulis pesan singkat yang akan dikirimkannya ke hp Silva.

“Selamat ulang tahun Sil…” ucapnya pelan lalu menghembuskan lilin itu hingga padam.

Febi menghapuskan air matanya dan melangkah ke tempat tidurnya. Rasanya ia masih ingin menunggu Silva, tapi ia yakin Silva sedang berbahagia merayakan hari ulang tahunnya bersama Dion. Dengan sangat terpaksa ia berusaha memejamkan matanya yang masih saja meneteskan air mata kesedihan.

Tepat pukul lima pagi, Silva tiba di kosnya. Ia masuk perlahan agar tak seorang pun tau kalau dirinya baru pulang pagi itu. Ketika ia melangkahkan kakinya ke dalam kamarnya, ia kaget melihat ada sebuah kue tart dan sebuah kado diatas meja. Kamar itupun sedikit berbeda dari biasanya. Silva melihat Febi yang masih tertidur pulas diatas kasurnya. Silva merasa sangat bersalah karena ia membiarkan Febi menunggunya semalam. Iapun memilih duduk di dekat meja tersebut dan memandangi Febi dengan wajah yang penuh penyesalan.

“Maafkan aku Bi..ternyata kamu sudah menyiapkan semua ini untuk aku!” ucapnya pelan.

Sekitar satu jam Silva tetap duduk dikursi itu, hingga akhirnya Febi bangun dan terkejut melihat Silva yang tiba-tiba sudah ada dihadapannya pagi itu.

“Sil, kamu ngagetin aku aja! Jam berapa kamu pulang?” tanya Febi.

Silva hanya diam, ia masih menyimpan rasa bersalah yang begitu besar kepada sahabatnya itu. Silva langsung bergegas memeluk Febi.

“Maafin aku ya Bi! Maafin aku…” ucap Silva dengan lirih.

Dengan cepat Febi melepaskan pelukan Silva.

“Maaf? Maaf untuk apa?” tanya Febi.

“Kamu udah nyiapin ini semua untuk aku, tapi aku malah tidak pulang semalam!”

“Ooohhh..itu! Aku ngerti kok! Semua yang aku lakukan ini mungkin tidak ada artinya dibanding dengan apa yang udah Dion kasih ke kamu! Jadi ya wajar aja kalau kamu lebih memilih merayakan hari ulang tahun kamu dengan dia daripada sama aku! Kalau memang kamu lebih bahagia, ya gak masalah kok buat aku!” jelas Febi.

“Kamu salah Bi! Bukan gitu maksud aku! Kamu dengerin dulu donk penjelasan aku!” pinta Silva.

“Ya udahlah Sil! O ya, met ulang tahun ya, semoga kamu bahagia dengan pilihan kamu!”

Febi berusaha menghindar dari Silva. Tapi Silva langsung menarik tangannya.

“Bi, aku mohon maafin aku! Aku tau aku salah! Dengerin aku donk Bi!” ucap Silva.

“Gak ada yang salah Sil! Aku ngerti kok! Aku sangat mengerti dengan kebahagiaan kamu saat ini! Jadi gak ada yang perlu dipermasalahkan!” jawab Febi.

“Kamu bohong Bi! Kenapa sih kamu gak marahin aku? Aku tau sebenarnya kamu kesal banget kan sama aku?”

Febi menarik nafas panjang, sebenarnya ia memang kesal dengan Silva, namun ia tetap berusaha untuk menahan amarah dan emosinya. Tetapi tetap saja Silva tidak bisa diam dan terus memaksanya hingga akhirnya ia pun tak kuasa untuk menahan amarahnya.

“Okey, sekarang kamu maunya apa? Kamu mau aku marah sama kamu?” tanya Febi.

“Bukan gitu Bi, aku tau aku salah, jadi tolong donk maafin aku!” ucap Silva.

“Sil, aku kan udah bilang, gak ada yang perlu dimaafkan, jadi ya udah gak perlu dibahas lagi kan?”

“Kamu bohong Bi!!”

“Okey.okey..sekarang aku marah, dan sekarang kamu denger ya, apa pantas aku marah kalau kamu udah berhasil mendapatkan kebahagiaan kamu? Apa pantas aku marah di hari ulang tahun kamu? Pantes gak?? Hah?” ucap Febi mulai emosi.

“Sil, kalau pun aku marah, itu bukan karena aku gak suka kalau kamu jalan sama Dion, tapi kamu gak pernah seperti ini! Semalam kamu gak pulang tapi gak ada kasih kabar ke aku! Semua ini aku lakukan cuma pengen buat kamu senang Sil! Aku khawatir sama kamu, tapi kamu malah asyik dengan kesenangan kamu sendiri!!” bentak Febi.

“Maafin aku Bi! Semalam Hp ku habis batere, makanya aku gak bisa nelpon kamu!”

“Oh ya? Emangnya Dion gak punya Hp? Atau gak ada pulsa?” tanya Febi sinis.

Silva hanya tertunduk sedih mendengar Febi yang mulai emosi. Namun biar bagaimanapun ia memang merasa bersalah karena tak memberi kabar pada Febi malam itu.

“Sil, aku bahagia kalau kamu memang bahagia. Tapi tolong hargai keberadaan aku sebagai sahabat kamu yang perduli sama kamu! Aku senang kok kalau emang Dion bisa buat kamu senang!” ucap Febi mulai pelan.

Tiba-tiba Silva meneteskan air mata dan lalu memeluk Febi.

“Maafin aku ya Bi!!” ucapnya lagi.

“Ya udahlah, aku ngerti kok! Maafin aku juga ya! Sebenarnya aku gak pengen merusak kebahagiaan kamu hari ini! Tapi tolong, lain kali jangan seperti itu!”

“Iya aku janji!”

***

Sejak hari itu persahabatan mereka kembali hangat seperti dulu lagi. Silva berusaha sebisa mungkin untuk membagi waktunya kepada Febi. Namun semua itu tidak bertahan lama. Silva kembali sering keluar malam, bahkan sekarang ia lebih sering pulang lebih larut dari biasanya. Febi mulai khawatir dengan perubahan sahabatnya itu. Menurut Febi, Dion telah memberikan dampak buruk untuk kehidupan Silva. Silva yang dulu ia kenal jarang keluar malam, kini lebih sering menghabiskan waktunya di luar bersama Dion. Beberapa kali Febi pernah membicarakan masalah tersebut kepada Silva, tetapi reaksi Silva hanya diam dan esoknya kembali seperti itu.

Kini justru Febi merasa sangat jauh dengan sahabatnya itu. Mereka jarang berkomunikasi dan bertukar pikiran seperti dulu. Terkadang Febi merasa sangat kesepian dengan situasi seperti itu. Setiap kali Silva pulang ke kos, pasti ia sudah tidur. Mereka juga sudah jarang berangkat ke kampus bersama. Semakin hari Febi semakin sedih dan kecewa dan perubahan sikap Silva. Iapun hanya bisa berdiam diri karena tak mau ada keributan lagi antara dirinya dengan Silva.

“Bi, mau ke kampus kan?” tanya Silva suatu hari.

“Iya!” jawab Febi singkat.

“Tungguin aku ya! Kita berangkat bareng!”

“Tumben?” tanya Febi sinis.

“Loh kok gitu sih nanyanya?”
”Emangnya kamu gak dijemput Dion?”
”Enggak!”

Sepanjang perjalanan menuju ke kampus, Febi bersikap dingin kepada Silva. Tak ada canda atau kata-kata yang keluar dari bibirnya seperti dulu yang pernah ia lakukan bersama Silva.

Silva pun merasa ada yang aneh dengan perubahan dari diri Febi.

Pulang dari kampus, lagi-lagi Febi bersikap yang sama kepada Silva. Akhirnya Silva memberanikan diri untuk menanyakan hal tersebut kepada Febi.

“Bi, dari tadi kok diam aja sih? Ada masalah ya?”

“Enggak kok!”

“Terus kok diam aja sih? Aku kayak jalan sama patung deh dari tadi!”

“Perasaan kamu aja tuh!”

“Bi, tunggu deh! Kamu marah ya sama aku? Ada apa sih Bi? Gak biasanya deh kamu kayak gini!”

“Emangnya kamu masih peduli sama aku?” tanya Febi sinis.

“Loh kok ngomongnya gitu?”

“Ya udahlah, aku capek banget nih!” jawab Febi kemudian berlalu dari hadapan Silva.

Sebenarnya Febi tidak ingin bersikap dingin seperti itu kepada Silva. Namun semua itu ia lakukan untuk mengetahui sejauh mana Silva

membutuhkan dirinya sebagai seorang sahabat. Karena akhir-akhir ini ia justru merasa Silva seolah tak memperdulikan dirinya lagi. Padahal ia sangat merindukan saat-saat kebersamaannya dengan Silva.

Perubahan sikap Febi yang menjadi dingin kepada Silva, justru tidak membuat Silva bisa berubah dan mengerti bagaimana perasaan Febi. Ia malah semakin dekat dengan Dion. Hal itu dikarenakan Silva telah menganggap bahwa Febi yang tidak peduli lagi dengan dirinya. Silva makin sering tidak berada di kos. Meski Febi terkesan menjauh, ia tetap memperhatikan sahabatnya itu.

***

Malam itu Febi berbaring di atas tempat tidurnya. Ia sedang berpikir keras bagaimana caranya untuk memperbaiki hubungannya dengan Silva. Meski mereka tinggal dalam satu atap, tapi seperti ada jurang yang lebar memisahkan mereka. Febi merasa tidak mungkin membiarkan masalah ini semakin larut. Akhirnya ia memutuskan untuk bicara lebih dulu kepada Silva. Memang secara sikap dan sifat, Febi bisa lebih dewasa daripada Silva.

Satu jam kemudian Silva tiba di kos. Febi tidak ingin membuang waktu lagi untuk bicara dengan Silva.

“Sil, aku pengen ngomong sama kamu!” ucap Febi.

“Sama donk, aku juga pengen ngomong sama kamu!”

“Ya udah, kamu duluan deh!”

“Kamu aja dulu!” jawab Silva.

Sesaat Febi hanya diam sambil memperhatikan Silva. Ia baru menyadari setelah sekian lama baru malam ini ia bisa memperhatikan seluruh tubuh Silva dari jarak dekat. Silva terlihat lebih kurus dan matanya juga mulai cekung. Wajahnya terlihat pucat, tidak seperti biasanya.

“Sampai kapan kita harus kayak gini Sil?” tanya Febi.

“Maksud kamu?”

“Udah deh! Kamu jangan pura-pura bingung gitu! Kita ini udah sama-sama dewasa, sampai kapan sih kita harus diam-diaman gini?”

“Loh, bukannya kamu duluan yang cuekin aku?”

“Aku? Harusnya kamu sadar donk, kenapa aku bersikap kayak gitu!”

“Febi..Febi…aku ini manusia biasa, bukan malaikat yang bisa tau isi hati orang lain!”

“Jadi kamu benar-benar gak ngerti apa yang aku maksud?” tanya Febi lagi.

“Iya, emang apa lagi sih yang jadi masalah sama kamu? Soal Dion lagi? Udah deh Bi, kenapa sih harus Dion terus yang kita bahas??”

Febi terkejut mendengar ucapan Silva. Entah mengapa Silva bisa berbicara seperti itu kepada dirinya. Ternyata Silva tak hanya berubah secara sikap tetapi juga ucapannya.

“Kamu berubah banget ya Sil!” ucap Febi.

“Gak ada yang berubah dari aku Bi! Itu semua cuma perasaan kamu aja! Kamu itu cuma gak suka kalau aku dekat sama Dion, makanya kamu mikirnya yang macem-macem terus!”

“Bukan itu masalahnya Sil!”

“Lalu apa? Kenapa sih kamu gak pernah bisa terima hubungan aku sama Dion? Padahal aku pengen banget kamu juga bisa dekat dengan Dion!”

“Harusnya hal itu kamu tanyakan ke Dion, bukan aku!”

“Udahlah Bi, aku capek banget! Aku capek kalau kita harus bertengkar terus!”

Keduanya saling diam, larut dalam pikiran masing-masing. Febi merasakan perubahan yang luar biasa pada diri Silva. Entah apa yang telah Dion lakukan pada diri sahabatnya itu, sampai-sampai Silva bisa bicara seperti itu kepada dirinya.

“Maafin aku! Terus kamu mau ngomong apa sama aku?” tanya Febi pelan.

“Gak ada..gak penting kok! Aku mau tidur, ngantuk!” jawab Silva.

Febi merasa sedih melihat kenyataan bahwa hubungannya dengan Silva bukannya membaik. Rasa penasaran tiba-tiba muncul dibenaknya. Ia ingin sekali mencari tau dimana tempat biasa Silva dan Dion menghabiskan waktu mereka.

PART 3

Esoknya Febi mulai mencari informasi dimana tempat-tempat yang sering Silva dan Dion kunjungi. Hari itu ia benar-benar memanfaatkan waktunya untuk mencari informasi sebanyak mungkin. Usahanya tidak sia-sia. Malam itu juga ia berencana untuk mendatangi tempat itu. Febi memang tergolong cewek yang pemberani. Meskipun ia belum pernah pergi ke tempat tersebut, tapi ia nekat datang sendirian.

Saat hendak mendekati tempat itu, Febi kaget melihat dua sosok manusia yang baru saja datang dan langsung masuk ke dalam. Mereka adalah Silva dan Dion.

‘Hmmm…jadi benar kalian sering kemari!’ ucap Febi dalam hatinya.

Febi memandang aneh tempat itu. Saat ia mulai mendekati pintu masuk, ia mendengar suara musik yang sangat kuat dari dalam ruangan itu. Lalu ia menyadari tempat itu ternyata adalah sebuah klub malam. Ia memberanikan diri untuk bertanya pada salah seorang pemuda yang sedang berdiri di depan tempat itu.

“Hmm…maaf mas, tempat ini tutupnya jam berapa ya?” tanya Febi.

“Kamu baru pertama kali kemari ya?”

“Iya, saya nyari teman saya disini!”

“Oohh..ini buka sampe pagi!”

“Sampe pagi?” tanya Febi heran.

“Ya iyalah, namanya aja klub malam!”

“Oh gitu ya, makasih ya mas!”

Gila…sejak kapan Silva suka pergi ke tempat seperti ini?’ tanya Febi dalam hatinya.

Sebenarnya Febi ingin sekali masuk ke dalam klub itu, tapi ia lalu mengurungkan niatnya itu. Ia tidak mau kalau kedatangannya ke sana diketahui oleh Silva. Yang jelas, saat ini ia sudah tau bahwa Dion memang benar-benar membawa dampak buruk dalam kehidupan Silva.

“Vin, aku mau nanya sesuatu sama kamu!” ucap Febi pada salah satu teman kuliahnya esok harinya.

“Ada apa Feb?” tanya Vino.

“Kamu pernah ke EQ gak?”

“EQ? Kenapa kamu nanya gitu? Kamu mau kesana?”

“Ya elah, ditanyain kok malah balas nanya sih?”

“Sori..sori..pernah sih beberapa kali tapi gak sering kok!”

“Oohh gitu ya?” ucap Febi sambil menganggukkan kepalanya.

“Emang kenapa sih Feb? Tapi pesan aku lebih baik kamu jangan kesana deh!”

“Loh emangnya kenapa?”

“Tempat itu gak baik, biasalah namanya juga klub malam! Makanya aku udah gak mau lagi kesana, malahan aku dengar-dengar banyak para pemake’ disana!”

“Hah? Pemake’?”

“Iya, tapi aku juga cuma dengar doank!”

“Makasih ya Vin infonya!”

Pulang dari kampus, pikiran Febi semakin tidak karuan. Apa yang dikatakan oleh Vino masih berwara-wiri dibenaknya. Yang paling tidak habis pikir, kenapa justru Silva mau pergi ke tempat seperti itu.

Setibanya di kos, ia terkejut melihat Silva terbaring di atas tempat tidur. Hatinya bertanya, tidak biasanya jam segitu Silva sudah ada di kos-kosan.

“Sil, kamu sakit ya?” tanya Febi.

“Gak kok!” jawab Silva pelan.

“Muka kamu pucat deh! Kamu yakin gak apa-apa?”

“Aku gak apa-apa kok! Mungkin terlalu capek aja kali!”

“Ya udah, kamu istirahat aja ya!”

Febi tidak tega melihat Silva terbaring lemah seperti itu. Ia yakin sekali bahwa kondisi tubuh Silva tidak begitu baik. Apa yang sebenarnya yang telah dilakukan Silva sampai ia harus keletihan seperti itu.

Malam itu Silva tidak pergi kemana-mana. Ia memilih untuk istirahat di kamar. Febi masih setia menunggu sahabatnya itu. Ia khawatir kalau terjadi sesuatu pada Silva.

“Kamu mau kemana Sil?” tanya Febi saat melihat Silva yang bangkit dari tidurnya.

“Kamar mandi!”

“Aku pegangin ya!” ucap Febi khawatir.

“Gak usah Bi! Aku gak apa-apa kok!”

Lima belas menit berlalu, tapi Silva belum juga keluar dari kamar mandi. Febi mulai panik lalu ia mendekati pintu kamar mandi.

“Sil..kamu gak apa-apa kan?” tanya Febi.

Tapi  tak ada jawaban dari dalam kamar mandi. Bahkan suara air juga tidak terdengar.

“Sil…Silva! Silva!” panggil Febi.

Berulang kali Febi memanggil nama Silva namun tetap saja Silva tak menjawabnya. Febi mencoba membuka pintu kamar mandi itu, tapi pintunya terkunci dari dalam.

Ya Tuhan…apa yang terjadi dengan Silva di dalam?’ bisik hatinya.

Febi tak tau harus berbuat apa, akhirnya ia memutuskan untuk mendobrak pintu itu. Untunglah Febi memiliki tenaga yang lumayan kuat, sehingga ia mampu mendobrak pintu itu sendirian.

Saat pintu itu terbuka, alangkah terkejutnya Febi melihat tubuh Silva yang terkapar di lantai kamar mandi.

“Ya Tuhan, SILVA!! Kamu kenapa Sil!”

Febi langsung menarik tubuh Silva dan menuntunnya ke atas tempat tidur. Silva tidak sadarkan diri. Febi dengan cepat mengganti pakaian Silva yang telah basah. Kemudian menyelimutinya dengan selimut tebal agar tubuhnya bisa terasa hangat. Wajah Silva terlihat pucat dan sayu. Namun matanya masih tertutup rapat. Sesaat kemudian Silva terbangun.

“Sil..kamu kenapa?” tanya Febi.

“Aku..aku..gak apa-apa kok Bi! Maafin aku ya udah ngerepotin kamu!” ucap Silva.

“Kamu jangan ngomong gitu donk!”

Febi masih penasaran dengan apa yang terjadi pada Silva. Kalau memang Silva tadi jatuh pingsan di kamar mandi, kenapa ia tak mendengar suara jatuhnya.

“Sil, kamu cerita donk sama aku, kamu lagi ada masalah ya? Aku antarin kamu ke dokter ya?” tanya Febi lagi.

“Hah? Gak usah Bi! Aku gak apa-apa!”

“Kamu sampe pingsan dikamar mandi kamu bilang gak apa-apa? Aku khawatir banget sama kamu Sil!”

“Bi, tolong donk! Aku cuma butuh istirahat aja, aku gak perlu ke dokter!” jawab Silva terlihat cemas.

“Ya udah kalau gitu! Kalau kamu perlu sesuatu, ngomong aja ya sama aku!”

Silva hanya mengangguk pelan. Tubuhnya masih terlihat lemas. Febi memandangi sosok itu dengan penuh prihatin. Wajah Silva tak seperti –

dulu lagi, kini lebih kurus, matanya pun cekung seperti orang yang kurang tidur. Ingin sekali Febi bertanya apa sebenarnya yang sedang dipikirkan oleh Silva hingga ia menjadi seperti itu. Tapi sepertinya saat ini Silva belum mau cerita apa-apa kepada dirinya.

Tiga hari Silva tidak masuk kampus. Ia juga hanya berdiam diri di kamar kosnya. Setiap kali Febi sedang berada dikampus, ia menjadi tidak tenang meninggalkan Silva sendiri di kos-kosan. Sebisa mungkin ia pulang lebih awal, hanya karena khawatir dengan keadaan Silva. Namun ada yang aneh yang Febi rasakan. Mengapa dalam kondisi seperti ini, justru Dion tidak muncul dihadapannya. Apakah Silva memang sedang ada masalah dengan Dion.

Keadaan Silva bukan semakin membaik, setiap kali diajak ke dokter, ia selalu saja menolak. Hal inilah yang membuat Febi semakin khawatir dengan kondisi sahabatnya itu. Febi benar-benar bingung harus berbuat apa agar kondisi Silva bisa seperti dulu lagi. Ia bahkan tidak tau apa penyebab dari semua itu.

Diam-diam Febi menaruh kecurigaan dengan kondisi Silva sekarang. Bagaimana tidak, setiap kali diajak ke dokter, Silva selalu menolak. Bahkan ia sendiri bingung mau membelikan obat apa yang pantas untuk Silva, karena ia sendiri tidak tau sebenarnya Silva sedang sakit apa. Esoknya Febi berencana ke perpustakaan kampus untuk mencari informasi tentang kecurigaannya. Saat sedang asyik memilih buku, ia dikagetkan oleh suara Vino.

“Febi!! Lagi ngapain?” tanya Vino.

“Vino! Ngagetin aja!”

“Ya elah, segitu aja kok kaget! Lagi ngapain sih?”

“Lagi tidur! Ya lagi mau minjam buku lah! Emangnya kalau ke perpus itu mau ngapain?”

“Sinis amat jadi cewek! Itu sih aku juga tau, emangnya kamu nyari buku apa?” tanya Vino lagi sambil melirik sebuah buku yang ada di tangan Febi.

Febi yang melihat Vino sedang menatap ke arah tangannya, dengan cepat berusaha menyembunyikan buku itu dibalik tubuhnya.

“Loh, kok disembunyiin sih? Lihat donk!”

“Nggak usah Vin! Lagian kamu ngapain sih disini, sono gi, ganggu aku aja!”

Lalu tiba-tiba Vino merebut buku itu dari tangan Febi.

“Narkoba?? Ngapain kamu baca buku begini?” tanya Vino.

“Eh, usil banget sih jadi orang! Suka-suka aku donk mau baca buku apaan!” ketus Febi.

“Kamu mau buat penelitian atau untuk bahan tulisan?”

“Mau tau aja sih!”

Vino menatap Febi penuh arti. Dalam benaknya bertanya apa alasan Febi untuk membaca buku itu. Entah mengapa tiba-tiba ia menyimpan suatu gelagat aneh dari Febi.

“Vin!! Ngapain kamu lihatin aku kayak gitu?” tanya Febi.

“Hah?? Enggak kok! Kali aja aku bisa bantu kamu!”

“Eh, kamu jangan mikir yang macem-macem ya! Aku itu cuma pengen tau gimana sih sebenarnya dampak narkoba itu bagi pemakainya, terus gimana tanda-tanda kita bisa tau kalau seeorang itu pemakai atau bukan!” jelas Febi.

“Ooohhh…gitu! Kenapa gak nanya sama aku aja sih?”

“Emangnya kamu tau? Jangan-jangan kamu…!”
”Sembarangan! Kamu tuh jangan mikir yang macem-macem!”

“Terus?”

”Ya sedikit banyak aku memang tau, kebetulan ada beberapa teman aku yang seperti itu! Kan aku pernah bilang kalau aku pernah beberapa kali ke EQ, ya disana tempat tongkrongan teman aku juga!”

“Ooohh…!”

“Emangnya kenapa kamu pengen tau soal itu? Kamu cerita aja ke aku, kali aja aku bisa bantu!” tawar Vino.

Febi merasa Vino orang yang tepat untuk diajak berbagi. Padahal ia tidak terlalu dekat dengan Vino, namun entah mengapa ia merasa bahwa Vino adalah teman yang baik dan tulus untuk membantu orang lain. Sejak Febi merasa jauh dari Silva, ia seperti kehilangan tempat untuk bisa berbagi dan bercerita. Tawaran dari Vino bagaikan sebuah titik cerah untuk ia mendapatkan informasi tentang suatu hal yang sangat ingin dketahuinya.

Akhirnya ia memutuskan untuk ngobrol banyak dengan Vino. Dan ternyata Vino memang orang yang asyik diajak ngobrol dan berbagi.

“Makasih ya Vin atas informasi dan pengetahuannya!” ucap Febi saat ia hendak beranjak pulang.

“Ya sama-sama! Tapi aku boleh tau sesuatu gak?”

“Apa?”

“Kenapa sih kamu nanya-nanya soal ini?”

“Sori ya Vin, saat ini aku belum bisa bilang ke kamu! Tapi aku janji suatu saat aku pasti cerita ke kamu!” jawab Febi.

“Oke! Tapi kalau kamu butuh bantuan aku, jangan sungkan-sungkan ya bilang ke aku! Aku pasti bantuin kamu!”

“Makasih ya Vin! Aku balik dulu ya, udah sore nih!”

“Ya, hati-hati ya Feb!”

***

Saat tiba di kos, Febi kaget melihat Silva tidak ada di kamar.

“Silva kemana ya? Anak itu kan masih sakit! Kok pergi gak bilang-bilang sama aku sih?!” ucap Febi pelan.

Febi tak mampu lagi menyimpan rasa penasarannya. Ia harus mencari tau dan membuktikan kecurigaan yang akhir-akhir ini muncul dalam benaknya. Apalagi setelah mendengar cerita dari Vino, kecurigaannya justru semakin besar.

Maafin aku Sil, aku terpaksa melakukan semua ini..!’ ucap Febi dalam hatinya saat ia hendak memeriksa isi lemari Silva.

Febi pun dengan buru-buru memeriksa seluruh isi lemari Silva. Ia berharap ada sesuatu yang bisa ia temukan untuk membuktikan segala kecurigaannya. Tapi ternyata tak satupun benda yang mencurigakan ia temukan. Ia belum patah semangat, kini Febi mulai memeriksa isi tas Silva yang digantung di belakang pintu. Entah mengapa hari ini Silva pergi tanpa membawa tas itu, padahal biasanya tas tersebut selalu ia bawa kemana-mana.

Lalu tiba-tiba Febi kaget bukan main melihat sesuatu di dalam tas itu. Ia kemudian meraih benda itu dan menatapnya dengan penuh haru.

Ya Tuhan…jadi ini yang telah ia lakukan selama ini..!’ bisik hati Febi.

Febi tidak mengembalikan benda itu ke dalam tas Silva. Ia malah mengambilnya dan berusaha menyimpannya. Perasaannya saat ini benar-benar tidak karuan. Entah dari mana ia harus memulai pertanyaan yang akan dilontarkannya nanti kepada Silva.

Hingga jam sepuluh malam, Silva belum pulang juga. Febi masih menunggu dengan perasaan cemas yang luar biasa. Ia benar-benar khawatir dengan keadaan Silva. Beberapa kali ia mencoba menelpon Silva, tapi tak pernah diangkat.

Febi mulai merasakan letih pada tubuhnya. Akhirnya ia memutuskan untuk menunggu Silva sambil berbaring diatas tempat tidur. Lima belas menit kemudian Febi pun larut dalam tidurnya yang membawanya ke alam mimpi.

PART 4

Pagi itu menunjukkan pukul tujuh. Febi tersentak dari tidurnya dan terkejut melihat jam di dinding kamarnya.

“Ya Tuhan, aku ketiduran…Silva mana ya? Kenapa dia belum pulang juga?” tanya Febi pada dirinya sendiri.

Febi meraih ponselnya dan kembali mencoba menghubungi Silva. Tapi usahanya sia-sia, Silva tak juga mengangkat telpon darinya. Hari itu Febi ada kuliah pagi. Dengan berat hati ia terpaksa pergi ke kampus, walau sebenarnya ia masih ingin sekali menunggu Silva pulang.

Selama mengikuti kuliah, pikiran Febi tidak bisa konsentrasi. Kecemasan masih saja menyelimuti dirinya. Ia benar-benar tidak tau bagaimana kondisi Silva saat ini. Selesai mata kuliah yang pertama, akhirnya Febi memutuskan untuk pulang. Perasaannya tiba-tiba menjadi tidak enak. Ia seperti merasa ada sesuatu yang terjadi pada Silva. Febi pun buru-buru meninggalkan kampus.

“Feb..mau kemana? Kita kan masih ada kelas!” tanya Vino.

“Aku sakit perut, mau pulang dulu ya! Eh iya, kalau bisa titip absen ya!” jawab Febi sambil berlalu pergi.

Febi terpaksa berbohong pada Vino. Ia tak ingin ada seorang pun tau tentang kondisi Silva saat ini. Apa lagi Febi sendiri belum yakin betul apa sebenarnya yang terjadi pada Silva.

Saat tiba di kosnya, Febi tau bahwa benar ternyata Silva sudah pulang. Tapi ia tak menemukan sosok sahabatnya itu di dalam kamar.

“Sil..! Silva..!!” panggilnya.

Tak ada suara apapun yang menjawab panggilan Febi. Lalu Febi  melangkahkan kakinya ke arah pintu kamar mandi. Pintu itu terkunci. Berarti Silva ada di dalam.

“Sil..Silva..!! Kamu gak apa-apa kan? Kamu ada didalam kan?” panggil Febi lagi.

Namun tetap saja tak ada yang menjawab.

“SILVA!! Buka pintunya Sil! Aku tau kamu ada didalam!” suara Febi makin keras.

Ada apa lagi dengan dia…ngapain sih dia didalam?’ bisik hati Febi.

“SILVA!! Buka pintunya atau aku dobrak ya!!” teriak Febi.

Usaha Febi sepertinya sia-sia. Febi benar-benar kehilangan akal. Mau tidak mau ia memang harus mendobrak pintu itu. Untunglah Febi memiliki tenaga yang lumayan kuat. Ia sangat takut kalau telah terjadi sesuatu pada Silva. Dengan sekuat tenaga akhirnya ia berusaha untuk mendobrak pintu itu.

‘DUBRAAKK!!!!’ pintu itu pun terbuka.

“SILVA!!! Ya Tuhan..Sil…Sil kamu kenapa?”

Febi langsung memapah tubuh Silva keluar dari kamar mandi. Saat itu Silva bagaikan antara sadar dan tidak. Febi membiarkan Silva berbaring diatas tempat tidur. Sebenarnya ia sudah tidak tahan untuk melontarkan berbagai pertanyaan yang hinggap di benaknya. Namun Febi merasa sepertinya saatnya belum tepat melihat kondisi Silva yang seperti itu.

Lima belas menit kemudian..

Silva terbangun dan melihat Febi yang memandang tajam ke arah dirinya.

“Udah sadar?” tanya Febi sinis.

“Sori ya Bi! Aku ngerepotin kamu lagi!” jawab Silva pelan.

“Sekarang aku udah bisa ngomong kan?”

“Emangnya kamu mau ngomong apa?”

“Kenapa semalam gak pulang?”

“Ooohh…aku lagi ada acara!”

“Sama Dion?”

“Iya, tapi sama teman-temannya juga kok!”

“Terus kenapa telpon aku gak diangkat?”

“Aku gak dengar Bi! Kamu kenapa sih nanya nya sinis banget gitu?”

“Kenapa tadi kamu di kamar mandi?” tanya Febi lagi tanpa menghiraukan pertanyaan Silva.

“Gak tau, aku tiba-tiba pusing terus jatuh!”

“BOHONG..!!!” teriak Febi.

Silva yang mendengar suara Febi merasa kaget dan menatap Febi dengan heran.

“Maksud kamu apa sih Bi?”

“Kamu udah bohong kan sama aku? Ngapain aja sebenarnya kamu tadi didalam? Ngapain Sil??”

“Bi, apa-apaan sih kamu?”

“Okey, jadi kamu masih belum mau ngaku ya sama aku!” ucap Febi lalu bergegas mengambil sesuatu dari dalam lemarinya.

“Ini..kamu lihat ini!! Apa semua ini Sil? APA??” bentak Febi sambil menunjukkan benda yang dipegangnya ke hadapan Silva.

“Dari mana kamu dapat itu?”

“Jadi ini yang udah kamu lakukan Sil? Benar kamu make’ Sil? Jawab aku Sil!!!”

“Kamu..ka..”

“Aku kecewa banget sama kamu Sil! KECEWA!!”

“Bi, dengerin aku dulu donk!”

“JAWAB AKU SIL! SIAPA YANG UDAH NGENALIN KAMU SAMA BARANG HARAM INI, SIAPA???” teriak Febi mulai emosi.

Silva hanya tertunduk pasrah melihat sahabatnya marah besar kepada dirinya. Ia tau bahwa dirinya memang salah. Bahkan ia tidak tau bagaimana menjelaskan semua itu kepada Febi.

“Aku tau kamu Sil! Kita udah lama temenan! Kamu gak pernah kayak gini! Siapa yang udah ngajarin kamu kayak gini? Siapa Sil?” tanya Febi mulai menurunkan suaranya.

Silva masih terdiam.

“Dion..DION kan??” tanya Febi lagi.

Silva terkejut mendengar nama itu disebut oleh Febi.

“JAWAB AKU SIL!! DION KAN? DIA YANG UDAH BUAT KAMU KAYAK GINI!! Brengsek kamu Dion!!”

“Cukup Bi!! Kenapa sih kamu selalu nyalahin Dion?”

“Terus siapa lagi kalau bukan dia? Siapa??”

“Kamu gak tau gimana ceritanya!”

“Apapun alasannya aku tetap gak terima dia udah buat kamu jadi kayak gini! Dari dulu  aku kan udah bilang, Dion itu cuma bawa dampak buruk buat kamu! Kenapa sih kamu gak pernah percaya sama aku?”

“Udahlah Bi! Aku bosan denger kamu menjelek-jelekkan Dion terus! Kenapa kamu gak pernah bisa terima hubungan aku sama Dion? Kenapa sih? Atau jangan-jangan kamu juga suka sama dia, makanya kamu cemburu, ya kan??!” suara Silva mulai meninggi.

Hampir saja Febi kehilangan kesabarannya. Ia seolah ingin menampar Silva yang sudah tega berkata seperti itu. Tapi tiba-tiba ia teringat semua ucapan Vino kemarin.

Febi benar-benar tak kuasa menahan emosinya, ia pun melampiaskannya dengan membanting semua benda yang ada ditangannya ke lantai. Sebuah jarum suntik dan bong (alat penghisap shabu) itu jatuh berantakan.

Febi terduduk dengan kepalanya yang menunduk. Air mata menetes mambasahi kedua belah pipinya. Sementara Silva hanya bisa terdiam dan kaget saat Febi membanting semua barang-barang itu.

“Kamu harus sembuh Sil..!” ucap Febi dengan air mata yang masih mengalir.

“Aku gak bisa…” jawab Silva pelan.

“Kamu harus bisa! Aku akan bantu kamu!”

“Kamu pikir aku gak coba? Aku udah coba Bi! Tapi aku gak bisa, aku gak kuat!!” jawab Silva lagi kini sambil menangis.

Febi tak kuasa melihat Silva seperti itu. Kemarahannya kembali memuncak. Yang ada dibenaknya kini adalah betapa ingin ia memukul Dion yang telah menjadikan Silva seperti ini. Ia mengepal tangannya untuk bisa menahan rasa emosinya. Tanpa sepatah kata, kemudian ia bangkit dan berlalu dari hadapan Silva begitu saja.

Silva hanya diam ketika melihat Febi pergi meninggalkannya. Bahkan kini ia tak sanggup bersuara untuk bertanya kemana sahabatnya itu akan pergi.

Sepanjang perjalanan Febi masih meneteskan air matanya. Orang-orang yang melihatnya merasa aneh. Tapi saat itu ia tak sedikitpun memperdulikan tatapan orang kepadanya. Perasaannya benar-benar hancur melihat kenyataan sahabat dekatnya kini menjadi korban dari barang haram yang amat dibencinya. Ia marah, sangat marah bukan ke-

pada Silva tapi justru kepada Dion, orang yang menurutnya menjadi biang keladi dari permasalahan ini.

Febi tiba di suatu tempat. Tanpa perduli, ia langsung berusaha masuk ke tempat itu..

“Eh..mbak mau nyari siapa?” tanya seorang pemuda.

“Mana Dion?” tanya Febi sinis.

“Oh mau nyari Dion? Ada perlu apa?”

“Aku cuma pengen ketemu sama Dion? Mana dia?”

“Idih..cantik-cantik kok galak amat sih?!” goda pemuda itu.

Febi tak memperdulikan gurauan pemuda tersebut, ia berusaha melangkah masuk ke dalam tempat tersebut.

“Heh..jangan sembarangan masuk donk! Tunggu disini aja!” kata pemuda itu lagi.

“Heh!! Aku kan udah bilang dari tadi, aku cuma pengen ketemu sama Dion, jadi cepat panggil dia, atau aku akan masuk sendiri!!”

“Ada apa ini?” tanya seseorang yang baru muncul tepat dari belakang pemuda tadi.

Saat menyadari bahwa orang tersebut adalah Dion, Febi langsung maju dan tiba-tiba sebuah tamparan keras mendarat dipipi Dion. Tak hanya sampai disitu, sebuah tinju dari tangan Febi juga sempat menghantam bagian perut Dion, hingga akhirnya beberapa teman Dion langsung menarik Febi.

“Feb..apa-apaan sih kamu? Kenapa kamu mukul aku?” tanya Dion.

“BRENGSEK KAMU YON! AKU UDAH BILANG KAN SAMA KAMU UNTUK JAGAIN SILVA, TAPI KENAPA KAMU BUAT DIA SEPERTI INI? KENAPA??” teriak Febi.

“Apa maksud kamu?”

“Gak usah pura-pura bego deh! Kamu kan yang udah ngajarin dia untuk make’ barang-barang haram itu? Kamu kan yang udah ngajarin dia??”

“Jangan sembarangan ngomong kamu Feb!”
”Bajingan kamu Dion!! Aku gak akan pernah maafin kamu! Dari dulu aku udah curiga kalau kamu cuma bisa bawa dampak buruk untuk Silva!”

“Febi..Febi…harusnya kamu ke tanya ke Silva, apakah aku yang maksa dia atau hanya kemauannya sendiri?!”

“Diam kamu Yon! Aku yakin kamu yang udah buat dia seperti itu! Mulai saat ini, aku gak akan biarin Silva untuk dekat sama kamu lagi!”

“Hahahaha…itu tidak akan mungkin terjadi Febi! Silva itu sangat mencintai aku, jadi dia tidak akan mungkin jauh-jauh dari aku!” jawab Dion sambil tertawa.

Febi kembali emosi, ia hampir saja ingin memukul Dion lagi, tapi buru-buru tangannya ditarik oleh teman Dion.

“BRENGSEK KAMU YON!! DENGER YA, AKU AKAN BUAT PERHITUNGAN SAMA KAMU!! INGAT ITU!” teriak Febi sambil menunjuk ke arah muka Dion.

Febi kemudian melangkahkan kakinya menjauh dari tempat itu. Hari ini ia benar-benar menguras tenaganya untuk menahan emosi dan amarah dihatinya. Dalam hatinya ia merasa menyesal telah membiarkan Silva dekat dengan Dion. Kini ia tak tau harus berbuat apa. Pikirannya tiba-tiba buntu. Ia kembali ke kos dengan perasaan hampa.

Saat masuk ke kamar, Febi melihat Silva sedang tertidur hingga ia tak menyadari kedatangan Febi. Febi memandang sedih wajah sahabatnya itu. Wajah yang dulu berseri, penuh dengan senyum dan terlihat anggun, kini berubah menjadi wajah yang layu seolah tiada bersinar lagi.

Ia tak tau harus kepada siapa ia bisa berbagi tentang kepedihan dan kesedihan hatinya saat ini. Biasanya hanya Silva yang menjadi tempatnya untuk bisa berbagi.

Kini ia seolah kehilangan separuh jiwanya saat mendapati kenyataan sahabatnya menjadi pecandu narkoba, sesuatu yang paling ia benci dalam hidupnya.

Febi berjalan pelan menuju tempat tidurnya. Tubuh dan jiwanya hari ini benar-benar terasa lelah. Ia membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur dan dalam waktu beberapa menit ia pun telah hanyut ke alam mimpi dengan membawa kepedihan yang masih melekat dihatinya.

Baru sekitar tiga jam Febi berkelana dalam ruang mimpinya, namun tiba-tiba ia seperti mendengar suatu suara. Saat ia bangkit, ia tak melihat Silva diatas tempat tidurnya. Ternyata Silva sedang berada di kamar mandi. Febi kembali curiga, ia langsung membuka pintu kamar mandi itu yang kebetulan tidak terkunci karena telah rusak gara-gara ia dobrak tadi siang.

“Silva..!!” panggilnya.

“Biarin aku Bi!!” jawab Silva lesu.

“Kamu apa-apan hah? Kamu gak boleh make’ itu lagi, kamu harus sembuh Sil!!”

Febi langsung merebut barang haram itu dari Silva dan membuangnya. Ia tidak perduli kalau Silva akan marah besar kepadanya.

“Bi, kamu apa-apan sih?”

“Kamu yang apa-apan! Berhenti Sil! Kamu gak boleh pake’ itu lagi!”

“Aku gak kuat Bi! Aku gak kuat!” raung Silva.

“Kamu harus bisa, kamu pasti bisa! Aku pasti akan bantu kamu untuk lepas dari semua itu!”

Febi langsung memeluk Silva dan membiarkannya menangis di pelukan Febi. Perempuan itu masih menangis entah karena menahan sakit atau justru merasa sedih mendapati kenyataan bahwa ia harus hidup dengan bergantung pada barang-barang haram itu. Sementara Febi mencoba sekuat mungkin untuk tetap te-

gar menghadapi sahabatnya itu, karena jika ia juga terpuruk dalam kesedihannya ia malah tidak akan bisa membantu Silva untuk lepas dari jeratan itu.

***

Dua hari sudah Febi tidak pergi ke kampus. Ia lebih memilih untuk menemani Silva di kos-kosan, karena ia sendiri merasa belum bisa meninggalkan Silva sendirian dalam kondisi seperti itu.

“Bi, kamu gak ke kampus?” tanya Silva.

“Enggak, aku mau nemanin kamu aja disini!” jawab Febi.

“Jangan gitu donk Bi! Masa’ gara-gara aku kamu jadi ninggalin kuliah sih? Lagian aku udah gak apa-apa kok!”

“Aku cuma khawatir sama kondisi kamu Sil!”

“Sampai kapan kamu mau khawatirin aku? Kamu lihat deh sekarang, aku gak apa-apa kan?”

“Ya aku tau, tapi…”

“Udahlah Bi! Please..aku bakal merasa bersalah kalau kamu terus-terusan ninggalin kuliah kamu!”

“Okey, kalau kamu memang merasa udah gak apa-apa, gimana kalau kita ke kampus bareng?” ajak Febi.

“Aku?”

“Ya iyalah..kamu juga udah lama kan gak ke kampus? Yuk!”

“Tapi Bi…”

“Tapi kenapa?” potong Febi.

“Aku takut Bi, kalau ntar tiba-tiba di kampus aku….” ucapan Silva terhenti dengan raut wajahnya yang mulai bersedih.

“Sil, kan ada aku! Kamu jangan takut, kamu harus bisa melewati semua ini! Aku janji, aku bakal didekat kamu terus kok!”

“Ya udah deh, aku siap-siap dulu ya!”

“Oke deh!” jawab Febi riang.

Sebenarnya Febi merasa senang karena ia berhasil membujuk Silva untuk mau pergi ke kampus lagi, tapi dalam hati kecilnya ada sedikit tersimpan kekhawatiran dengan ucapan Silva tadi. Bagaimana kalau tiba-tiba nanti Silva kambuh lagi? Bagaimana kalau nanti tiba-tiba ia sakaw dikampus? Lalu Febi buru-buru membuang jauh semua pikiran itu. Bagaimana pun kondisi Silva, ia tidak akan meninggalkan sahabatnya itu. Bahkan ia telah berjanji dalam dirinya sendiri untuk membantu Silva keluar dari jeratan barang-barang haram itu.

Saat berada di kampus, ada beberapa orang yang memandang aneh dengan perubahan penampilan Silva. Hal itu bisa dilihat dari cara mereka memandang ke arah Silva. Tapi Febi berusaha untuk membuat Silva merasa senyaman mungkin. Menjelang siang hari, Silva mulai merasakan sesuatu dari dalam tubuhnya. Dadanya terasa mulai menyesak, tubuhnya seolah gemetar. Ia seakan tak mampu menahan rasa ngilu yang perlahan menggerogoti tubuhnya. Silva kemudian berlari menuju kamar mandi.

Sementara Febi terkejut melihat Silva yang lari begitu saja. Ia pun buru-buru menyusul Silva ke kamar mandi.

“Sil, kamu kenapa?” tanya Febi dari balik pintu kamar mandi.

Tapi Silva tak menjawab. Bukannya tak ingin, tapi ia benar-benar tak mampu menahan sakit pada sekujur tubuhnya. Febi mulai panik.

“Sil..buka pintunya Sil! Biarin aku masuk!” ucap Febi lagi.

Silva dapat mendengar suara Febi, tapi ia seolah tak sanggup untuk menopang tubuhnya. Sekuat mungkin ia berusaha untuk meraih pintu kamar mandi itu agar bisa membukanya. Saat ia berhasil membuka pintu itu, seketika itu juga ia terjatuh di lantai.

Febi buru-buru masuk dan menutup pintu itu agar tak ada orang lain yang tau dengan apa yang terjadi pada Silva.

“Sil..kamu bangun Sil..!” ucap Febi sambil mengguncangkan tubuh Silva.

“Bi..a..aku..gak..kuat..” ucap Silva terbata-bata.

“Ya Tuhan…apa yang harus aku lakuin Sil? Jawab aku!”

“Aku butuh itu Bi..tolong aku!”

“Kamu butuh apa?”

“Ada didalam tas aku!”

Febi buru-buru membuka tas Silva yang dari tadi dibawanya saat ia berlari mengejar Silva. Ia terkejut melihat barang itu masih ada didalam tas Silva.

“Maksud kamu ini Sil?” tanya Febi sambil menunjuk barang tersebut.

“I..i..iya..”

“Gak mungkin Sil! Kamu gak boleh pakai ini lagi, kenapa kamu masih nyimpan barang haram ini?”

“Tolong aku Bi..! Kali ini aja! Aku benar-benar gak kuat!”

“Tapi…”

“Bi, aku gak akan bisa pulang dalam kondisi seperti ini! Tolong..! Aku mohon Bi..” ucap Silva memelas sambil terus meneteskan air matanya.

Febi benar-benar tidak tega melihat kondisi Silva seperti itu. Ia seolah berada dalam situasi yang membuatnya harus memilih, membiarkan Silva terus menahan sakitnya atau memberikan barang itu agar Silva bisa mengatasi rasa sakitnya.

Ya Tuhan…apa yang harus aku lakukan? Aku benar-benar tidak tega melihatnya seperti ini..’ ucap Febi dalam hatinya.

Dengan berat hati, Febi terpaksa menyerahkan barang itu kepada Silva. Kini ia benar-benar tak lagi mampu menahan air matanya. Ia benar-benar merasakan kepedihan yang luar biasa, dengan mata kepalanya sendiri, ia harus menyaksikan sahabatnya memakai barang haram itu.

Setelah memakainya, Silva perlahan mulai tenang dan tubuhnya perlahan terbebas dari sakit yang sempat membelenggunya.

“Aku tunggu diluar ya Sil!” ucap Febi dan lalu segera bangkit dan hendak melangkah ke luar. Namun kemudian Silva memanggilnya.

“Bi…makasih ya!” ucap Silva pelan.

Febi hanya menganggukkan kepalanya lalu keluar dari kamar mandi itu. Ia tertunduk lesu. Sebisa mungkin ia menahan air matanya, karena ia tak ingin ada seorang pun yang curiga saat melihatnya keluar sambil menangis.

Lima menit kemudian, Silva menghampirinya.

“Kita pulang sekarang ya Bi!” ucapnya pelan kepada Febi.

“Yuk..”

Selama dijalan, pikiran Febi selalu terbayang saat ia menyaksikan Silva memakai barang haram itu dikamar mandi tadi. Ia seolah merasa sangat berdosa membiarkan hal itu terjadi, tetapi ia tak tau harus berbuat apa lagi agar Silva terbebas dari rasa sakit itu.

Hingga sampai di kos, Febi tetap masih membisu.

“Bi..kamu marah ya?” tanya Silva yang melihat Febi hanya diam dari perjalanan pulang tadi.

“Enggak kok!” jawab Febi pelan.

“Maafin aku ya Bi!”

“Aku cuma kecewa, kenapa kamu masih nyimpan barang-barang itu?”

“Aku mohon ngertiin aku Bi! Gak gampang untuk keluar dari semua ini! Aku benar-benar gak kuat saat rasa sakit itu menyerang aku!”

“Aku harap itu yang terakhir kalinya..!”

Namun Silva tidak menanggapi ucapan terakhir Febi tadi.

“Sil, janji sama aku, itu yang terakhir kalinya kamu pake’ barang haram itu!” tegas Febi.

“Aku gak bisa janji Bi! Itu berat buat aku!”

“Kamu harus sembuh Sil! Harus sembuh!!”

“Aku tau! Kamu pikir aku gak mau sembuh, tapi aku gak bisa Bi! Gak kuat!! Kamu gak bisa merasakan gimana sakitnya!”

Mungkin apa yang dikatakan Silva ada benarnya. Febi sendiri tak pernah merasakan gimana sakitnya yang dirasakan Silva. Jadi ia tak bisa berbuat banyak untuk melarang sahabatnya itu. Otaknya tiba-tiba buntu. Ia tidak tau harus kepada siapa meminta bantuan untuk menyelesaikan masalah ini. Terus terang Febi sendiri memang belum pernah menghadapi orang-orang yang menjadi pecandu narkoba. Tapi ia juga tak bisa membiarkan Silva terus-terusan memakai barang haram itu.

PART 5

“Feb, kamu jangan bohong deh! Bukannya aku sok tau, aku cuma pengen nolongin kamu aja kok!”

“Aku baik-baik aja kok, jadi apanya yang harus ditolongin?” jawab Febi berbohong.

“Kamu lagi ada masalah sama Silva kan? Sori Feb, kemarin aku sempat lihat kamu ngejar Silva ke kamar mandi, terus terang itu semakin menambah keyakinan aku tentang kecurigaan aku belakangan ini!”

Febi terlihat kaget mendengar ucapan Vino. Dalam hatinya ia bertanya, darimana Vino tau tentang masalahnya dengan Silva. Apa mungkin Vino hanya ingin memancing dirinya saja.

“Kecurigaan? Emangnya kamu curiga apaan?” tanya Febi balik.

“Ada deh!”

“Dasar sok tau!”

“Eh Feb, aku serius! Aku tau kamu sekarang lagi ada didalam posisi yang sulit! Aku gak punya niat macem-macem kok, aku tulus cuma pengen nolong kamu aja! Feb, biar bagaimanapun kamu butuh orang lain untuk menyelesaikan persoalan kamu itu! Masalah kamu itu serius Feb, jadi kamu harus bertindak secepatnya!” jelas Vino.

Vino kok kayaknya tau banget ya tentang masalah aku! Apa memang dia yang bisa nolongin aku? Tapi dia tau darimana ya?’ bisik hati Febi.

“Feb, kok bengong sih? Percaya deh sama aku, aku bakal nyimpan rahasia ini!”

“Sebenarnya kamu tau darimana sih?” tanya Febi penasaran.

“Hmmm..aku sebenarnya belum yakin bener sama dugaan aku! Jujur Feb, saat aku tau kalau Silva pacaran sama Dion, aku gak setuju banget karena aku tau betul siapa Dion! Tapi saat itu, aku gak bisa berbuat apa-apa! Sampai akhirnya aku melihat banyak perubahan yang terjadi pada diri Silva! Entah kenapa semakin hari aku semakin yakin kalau Silva pasti udah jadi korban Dion!”

“Korban Dion? Apa maksud kamu?” potong Febi.

“Dion itu kan pecandu! Banyak orang-orang yang baru kenal sama dia jadi terjerumus gara-gara ulahnya itu! Makanya saat aku ketemu kamu di perpus waktu itu, aku semakin curiga aja!”

Febi terdiam. Amarah mencoba menguasai dirinya lagi saat ia mendengar nama Dion disebut.

“Feb, aku cuma pengen bantu kamu!” ucap Vino pelan.

“Kamu benar Vin! Aku memang sedang berada dalam masalah yang serius! Dan aku juga gak tau harus berbuat apa untuk mengatasi ini semua!”

“Jadi benar Silva udah kena juga?” tanya Vino dengan suara yang lebih pelan lagi agar tak seorang pun yang mendengar ucapannya.

“Yagh..begitulah Vin! Aku juga shock banget saat tau semua itu! Aku benar-benar gak tau mesti ngomong sama siapa!”

“Kamu sabar ya Feb! Aku janji aku bakal bantu kamu! Aku udah pernah menghadapi orang-orang seperti itu!”

“Makasih ya Vin, tapi tolong jangan ada orang lain yang tau soal ini!”

“Aku janji!! Sekarang gimana kondisi Silva?”

“Sepertinya semakin parah Vin! Dia benar-benar gak bisa lepas dari barang-barang itu!”

“Hmmm..o ya Feb! Kebetulan temannya Papaku ada yang kerja di Panti Rehabilitasi, gimana kalau kita coba masukin Silva kesana aja? Mudah-mudahan tempat itu bisa membantu proses penyembuhan Silva!”

“Panti rehabilitasi? Kamu yakin?” tanya Febi ragu.

“Loh emangnya kenapa? Tempat itu kan memang khusus bagi pecandu narkoba, jadi disana dilakukan berbagai proses penyembuhan dan terapi! Banyak kok yang udah berhasil sembuh!”

“Iya sih..”

“Kamu belum kasih tau sama ortunya Silva ya soal ini?”

“Belum, aku gak tau harus ngomong apa sama mereka! Aku gak tega Vin!”

“Iya tapi biar bagaimanapun mereka harus tau Feb!”

“Iya nanti aku pikirin dulu deh!”

“Ya udah, besok aku coba hubungi teman Papaku itu ya! Kalau ada apa-apa, kamu jangan sungkan untuk telpon aku ya Feb!”

“Makasih ya Vin..”

Sedikit kelegaan seolah membasuh jiwa Febi saat itu. Ia benar-benar beruntung telah mengenal seorang Vino. Ternyata Vino itu benar-benar orang yang baik. Paling tidak, kini ia sudah memiliki tempat untuk berbagi dan mencari solusi untuk mengatasi masalah Silva.

Setiba di kos-kosan, Febi tidak menemukan Silva di dalam kamar. Ia kemudian meraih ponselnya dan mencoba menghubungi Silva. Tapi ternyata ia mendengar suara ponsel Silva berdering di dalam kamar. Silva pergi tanpa membawa Hp.

Gak biasanya tuh anak pergi tanpa bawa Hp, dia pasti perginya tadi buru-buru..Kemana lagi dia?’ tanya Febi didalam hatinya.

Menjelang pukul sebelas malam, Silva belum juga kembali. Febi kembali merasa panik. Ia takut kalau Silva pergi untuk mencari Dion. Febi kemudian berusaha menghubungi Vino.

“Vin..” sapanya via telpon.

“Iya Feb, ada apa?”

“Silva pergi Vin! Dari tadi siang sampe sekarang belum pulang! Aku gak tau dia pergi kemana, aku takut kalau dia ketemuan lagi sama Dion!”

“Kamu sabar ya Feb! Kamu udah coba nelpon dia?”

“Hpnya tinggal dikos!”

“Hmm..menurut kamu dia kemana?”

“Aku curiga dia ke tempat tongkrongannya Dion! Aku susul aja dia kesana ya Vin?”

“Jangan Feb! Inikan udah malem banget, lagian gak baik kalau kamu pergi sendirian ke tempat itu!”

“Iya tapi aku khawatir banget Vin!”

“Gini aja deh, kamu tunggu aja di kos, biar aku yang coba cari dia kesana!”

“Kamu gak apa-apa?”

“Gak apa-apa kok! Nanti secepatnya aku kabari kamu ya!”

“Makasih banget ya Vin, maaf ya aku udah ngerepotin kamu!”

“Aku kan udah janji bakal bantuin kamu, jadi kamu jangan merasa gitu deh!”

“Hati-hati ya Vin!”

“Iya..” jawab Vino.

Malam itu Febi tak bisa memejamkan matanya. Ia masih menanti telpon dari Vino. Saat itu sudah menunjukkan pukul satu malam. Tapi Vino belum juga menghubungi dirinya. Lalu tiba-tiba ponselnya berdering…

“Vin, gimana?” tanya Febi tak sabar saat ia mengangkat telponnya.

“Sori Feb, aku belum sempat masuk kesana!”

“Jadi?”

“Waktu aku diperjalanan, aku melihat ada beberapa mobil polisi yang pergi ke arah yang sama dengan aku, terus aku pura-pura aja gak jadi ke tempat itu dan ternyata polisi itu merazia tempat itu Feb! Sepertinya banyak sekali yang tertangkap karena aku sempat lihat ada beberapa orang yang dibawa sama mobil polisi itu!”

“Apa??!! ucap Febi kaget.

“Tapi aku belum tau pasti apakah Silva ada disana atau enggak! Makanya aku masih mau cari tau dulu! Kamu yang sabar ya !”

Perkataan Vino bagaikan petir yang menyambar dirinya malam itu. Bagaimana seandainya Silva memang ada disana. Bagaimana kalau polisi menangkap Silva. Febi benar-benar tak tau harus berbicara apa lagi. Ia hanya bisa berdoa dan berharap semoga Silva tidak ada ditempat itu. Sementara itu Vino terus berusaha mencari informasi apakah Silva dan Dion ada di tempat tersebut saat polisi –

melakukan razia. Ia sendiri belum berani untuk mendekati tempat itu karena beberapa polisi masih berada disana. Untunglah Vino memiliki kenalan yang kebetulan berprofesi sebagai polisi. Iapun lantas segera mencari tau pada temannya tersebut. Vino bergegas ke kantor polisi untuk menjumpai temannya yang kebetulan juga bertugas pada malam itu, hanya saja temannya tersebut tidak ikut dalam razia yang digelar polisi malam itu.

“Apa kabar Bim?” sapa Vino pada Bimo temannya saat ia telah tiba di kantor polisi.

“Baik Vin..kamu sendiri gimana? Ada angin apa nih malam-malam gini nyari aku?”

“Iya, aku butuh bantuan kamu Bim!”

“Ada apa?”
”Tadi aku lihat polisi merazia EQ, aku bisa tau gak siapa-siapa yang kena razia itu? Apa mereka dibawa kemari?” tanya Vino.

“Iya emang dibawa kemari sih, tapi buat apa kamu nanya itu?”

“Gini Bim, kebetulan aku nyari teman aku, biasanya dia nongkrong disana, makanya aku pengen tau apa dia kena razia itu atau gak!”

“Oohh..gitu, ya udah, ikut aku yuk!” ajak Bimo.

Vino pun mengikuti langkah Bimo dari belakang. Bimo mengajak Vino untuk melihat beberapa orang yang sempat terkena razia tersebut. Dan alangkah kagetnya ia saat melihat Silva dan Dion ada diantara orang-orang tersebut.

“Mereka masih harus diproses lebih lanjut Vin! Aku dengar beberapa dari mereka ada yang kedapatan langsung membawa narkoba, makanya harus ditahan disini! Besok mungkin akan dilakukan tes urine, kalau terbukti ya berarti mereka tetap harus ditahan! Gimana ada gak kira-kira teman kamu?” tanya Bimo.

“Hah? Banyak juga ya Bim yang ditahan?”

“Ya gitulah, kalau untuk soal narkoba gak akan ada ampun deh Vin! Bakal berat urusannya!”

Vino hanya terdiam mendengar ucapan Bimo. Kalau dilakukan test urine, pastilah Silva terbukti sebagai pemakai. Ia tidak tau bagaimana menyampaikan semua ini kepada Febi. Hukuman penjara untuk Silva seolah telah terbayang dibenak Vino.

Hari itu telah menunjukkan pukul tiga pagi. Vino masih berada dikantor polisi. Ia belum juga menghubungi Febi. Akhirnya ia memutuskan untuk memberitahu Febi secara langsung, bukan melalui telpon, karena ia takut kalau nanti terjadi sesuatu pada Febi saat mendengar kabar ini. Setelah pamitan pada Bimo, Vino bergegas kembali ke rumahnya. Ia ingin sebentar saja merebahkan tubuhnya karena ia yakin besok banyak sekali yang akan diurusnya terutama untuk masalah Silva ini. Ia telah berjanji pada Febi untuk terus membantu wanita itu.

***

Esok pagi, tepat pukul tujuh pagi, Vino sudah berada di kosnya Febi.

“Gimana Vin?” tanya Febi tidak sabar.

“Maafin aku ya Feb!”

“Maksud kamu?”

“Silva dan Dion sekarang ada di kantor polisi..”

“APA??”

“Kamu yang sabar ya?”

“Jadi dia ketangkep Vin? Ya Tuhan kenapa semua jadi seperti ini?” ucap Febi sedih.

“Sabar ya Feb, kita sama-sama cari jalan keluarnya!”

“Tapi hukuman untuk pemakai narkoba itu kan berat Vin! Aku takut banget Vin!”

“Ya aku tau, tapi setiap masalah pasti ada jalan keluarnya kan?” hibur Vino.

“Aku mau lihat dia Vin! Temani aku ke kantor polisi ya!”

“Iya, kamu mau pergi sekarang?”

“Iya..”

Febi dan Vino pagi itu juga segera beranjak ke kantor polisi, tempat dimana Silva dan Dion ditahan. Sepanjang perjalanan Febi tak kuasa menahan air matanya yang terus mengalir membasahi kedua belah pipinya. Perasaannya hari itu benar-benar kacau. Satu masalah belum selesai, kini telah datang masalah yang lain. Entah bagaimana ia harus menyampaikan berita itu kepada orang tua Silva. Haruskah ia merahasiakan semua itu, tapi sepertinya hal itu akan sulit ia lakukan. Bagaimanapun juga orang tua berhak untuk mengetahui kondisi anaknya.

Ketika tiba di kantor polisi, Vino langsung mencari Bimo agar mereka dapat lebih mudah untuk bisa mengunjungi Silva.

“Untung aja kamu cepat kemari, soalnya ntar lagi aku mau balik, kan aku tadi dinas malam!” ucap Bimo.

“Iya, tolongin banget ya Bim!”

“Oke, siapa tadi namanya Vin?”

“Silva..”

“Ya udah, kalian tunggu disini dulu ya!”

“Makasih banyak ya Bim!” ucap Vino.

Bimo melangkah untuk memanggil Silva di ruang tahanan. Beberapa menit kemudian ia kembali dengan seorang wanita dibelakangnya.

“Silva..” ucap Febi lirih.

“Brengsek kamu Bi!!” suara Silva cukup mengagetkan Febi dan Vino.

“Sil..kamu kenapa?”

“Gak usah pura-pura bego’ deh! Kamu kan yang lapor ke polisi?” tanya Silva dengan sinis.

“Apa?? Gak mungkin aku melakukan itu Sil!”

“Udahlah, gak usah sandiwara lagi! Aku udah muak sama kamu! Tega banget ya kamu sama aku?!”

“Sil, aku gak pernah lapor ke polisi, kamu salah paham Sil! Aku justru baru tau pagi ini kalau kamu ditahan disini!”

“Benar Sil, Febi tau dari aku kalau kamu ditahan disini!” sambung Vino.

“Aku gak percaya sama kalian berdua!”

“Sil, gak mungkin aku tega melakukan itu, kenapa kamu nuduh aku seperti itu?” tanya Febi sedih.

“Bukannya kamu sempat datangin Dion dan mengancam dia?” tanya Silva.

“Ya, aku memang pernah nyamperin dia, bahkan aku juga sempat nampar dia, karena aku tau betul dia itu brengsek, gara-gara dia juga kamu jadi seperti ini! Tapi tidak pernah sedikit pun terlintas dalam pikiran aku untuk melaporkan kalian ke polisi..” jelas Febi.

“Ngapain juga kamu pake nampar Dion segala? Aku udah bilang ke kamu Bi, tolong jangan bawa-bawa Dion dalam masalah aku!”

“Tapi kenyataannya kan emang dia yang jadi sumber masalahnya Sil? Kamu sadar donk kalau Dion itu emang brengsek, dia itu sengaja buat kamu jadi kayak gini, kenapa kamu masih aja belain dia?”

“Cukup FEBI!! Aku udah gak mau dengar kata-kata kamu lagi! Kamu yang brengsek, udah tega masukin aku ke dalam sini!”

“Sil..demi Tuhan! Aku gak pernah melakukan itu! Kita udah lama bersahabat, tapi kenapa kamu lebih percaya sama Dion daripada aku?”

“Mending kamu pergi deh dari sini! Aku udah gak mau ketemu kamu lagi!” cetus Silva.

“Aku janji aku akan cari cara supaya kamu bisa keluar dari sini! Aku gak akan ninggalin kamu Sil!”

“Udahlah…! Vin, tolong bawa dia pergi!”

“Sil, kamu denger ya! Aku akan buktikan kalau semua tuduhan kamu itu salah! Dan aku akan buat mata kamu terbuka untuk bisa melihat siapa Dion itu sebenarnya!” tegas Febi.

“Sabar Feb, mending sekarang kita pulang aja, gak enak ribut-ribut disini!” ucap Vino pada Febi.

“Itu lebih baik Vin! Dan jangan pernah datang lagi untuk nemui aku!” ucap Silva.

Vino yang melihat Febi mulai emosi, dengan cepat menarik lengannya untuk menjauh dan pergi dari tempat itu.

“Aku gak nyangka dia tega nuduh aku kayak gitu!” ucap Febi pada Vino saat mereka telah berada diparkiran motor.

“Kamu yang sabar ya! Dia masih shock, jadi pikirannya juga kacau! Maklumi aja!”

“Aku yakin, pasti Dion yang udah mencuci otak Silva!”

“Ya udahlah, sekarang kita mau kemana? Lebih baik kita cari tempat buat ngomongin gimana caranya untuk mencari solusi biar Silva bisa keluar dari kantor polisi! Kamu setuju?”

“Ya deh, terserah kamu aja!”

***

“Feb, kamu jangan sedih gitu donk! Aku bakal bantu kamu kok!” ucap Vino saat mereka sudah berada dalam suatu kafe.

“Aku bingung Vin! Aku gak tau harus berbuat apa! Masalah bagaimana menyembuhkan Silva aja belum selesai, sekarang sudah ada masalah baru lagi! Aku takut kalau dia sampai kumat di dalam sana!” lirih Febi.

“Ya aku ngerti! Hmm..gimana kalau besok aku coba minta bantuan sama om ku yang pengacara?”

“Pengacara? Maksud kamu kita sewa pengacara gitu?” tanya Febi balik.

“Iya, kan mereka lebih tau gimana prosedur hukumnya!”

“Vin, aku mesti bayar pake apa?”

“Febi, kamu jangan mikirin soal itu dulu! Yang penting kan bagaimana supaya Silva bisa keluar dari sana! Lagipula orang itu om aku sendiri kok! Dia udah sering nanganin kasus seperti ini!”

“Aku udah terlalu banyak ngerepotin kamu Vin!”

“Kamu jangan ngomong gitu donk! Aku bakal bantuin kamu terus! Aku ikhlas kok!”

“Kira-kira Silva bisa bebas gak ya?”

“Kita kan gak tau, makanya kita butuh bantuan pengacara! Yagh..mudah-mudahan aja Silva bisa cepat keluar..! Hmm..terus kamu sendiri kapan mau ngabarin orang tuanya Silva?”

“Aku gak tau Vin!”

“Feb, kalau kamu coba sembunyiin hal ini dari orang tuanya Silva, percuma aja! Karena lambat laun mereka bakal tau juga! Apa lagi kalau nanti Silva gak pernah kasih kabar ke mereka, tentu mereka bakal menghubungi kamu sebagai sahabatnya, ya kan?”

“Iya sih, aku juga sempat mikir gitu! Tapi aku tetap harus tanya Silva dulu!”

“Ya udah terserah kamu aja! Nanti malam aku coba telpon Om aku ya, mudah-mudahan aja dia gak sedang sibuk jadi bisa ada waktu untuk kita!”

“Makasih banyak ya Vin, aku benar-benar gak tau harus gimana kalau gak ada kamu!”

“Udah donk, kamu jangan ngomong kayak gitu terus!”

Febi benar-benar merasa beruntung bisa dekat dengan Vino. Ia tidak mampu membayangkan bagaimana dirinya saat ini jika Vino tidak didekatnya. Setelah berbincang-bincang, merekapun memutuskan untuk pulang. Sebelum pamitan, Vino sempat berpesan pada Febi agar jangan terlalu larut dalam kesedihannya. Tapi sepertinya pesan Vino itu tak cukup memberikan pengaruh pada Febi. Saat di dalam kamar, ia meraih foto dirinya bersama Silva yang terpajang di atas meja. Febi memandangi foto itu dengan

perasaan yang penuh haru, tanpa sadar air matanya jatuh dan mengenai kaca pada bingkai foto itu.

Sil…aku kangen banget sama kamu..kenapa sekarang kamu begitu berubah? Kenapa sekarang kamu bisa jadi seperti ini? Aku sayang banget sama kamu Sil…aku janji, aku akan bantu kamu untuk keluar dari masalah ini…’ ucap Febi dalam hatinya.

Malam itu Febi begitu sulit untuk memejamkan matanya. Ia seolah bagai kehilangan separuh jiwanya, melihat sahabat yang paling disayanginya harus menghadapi masalah besar seperti ini. Ia masih berusaha berpikir keras untuk mencari jalan keluar dari masalah itu, tapi tetap saja ia tak tau harus berbuat apa. Karena Febi tidak begitu paham dengan masalah hukum.

Esok paginya, ia tak ingin membuang waktu hanya berdiam diri di dalam kamar. Maka ia pun bergegas untuk pergi ke kantor polisi. Namun reaksi Silva atas kedatangan Febi tidak berbeda dengan hari kemarin. Ia masih menyimpan amarahnya terhadap Febi.

“Aku kan udah bilang kamu gak perlu kemari lagi!” ucap Silva dengan nada sinis.

“Sebanyak apapun kamu ngusir aku atau nyuruh aku untuk jauhi kamu, aku gak akan pernah melakukan itu! Aku akan buktikan ke kamu Sil kalau aku gak pernah melakukan apa yang udah kamu tuduhkan ke aku!”

“Udahlah, aku udah capek dengan semua ini! Mending sekarang kamu pulang aja! Gak usah sok peduli sama aku!”

“Sil, aku bukan sok peduli tapi aku emang peduli banget sama kamu! Karena kamu sahabat aku!”

“Seorang sahabat tidak akan tega menjebloskan sahabatnya sendiri ke dalam penjara!” cetus Silva.

“Sil, berapa kali sih aku mesti bilang ke kamu! Aku tidak tau apa-apa soal razia polisi itu! Aku kecewa banget sama kamu Sil! Cuma segini aja

kamu kenal sama aku, sahabat kamu! Kamu lebih percaya dengan Dion yang baru kamu kenal beberapa bulan ini!” ucap Febi dengan aura kecewa yang tak dapat ditutupinya.

Silva hanya diam membisu mendengar ucapan Febi. Satu sisi ia merasa bingung kenapa ia bisa bersikap sekasar itu kepada Febi, tapi disisi lain ia juga kecewa karena menurutnya Febi lah yang telah melaporkan kepada polisi. Ia lalu bergegas bangkit dari duduknya dan hendak melangkah kembali ke ruang tahanan, namun kemudian Febi meraih lengannya.

“Sil, tunggu! Kalau kamu memang gak mau bicara lagi sama aku ya udah! Tapi tolong terima ini, aku bawa beberapa makanan dan vitamin buat kamu! Ini juga ada beberapa baju kamu untuk ganti sama baju hangat kamu! Aku pulang dulu, jaga kondisi kamu ya!” ucap Febi dengan lirih lalu ia bergegas melangkah pergi dari hadapan Silva dengan kepala tertunduk lesu, meski begitu ingin ia memeluk sahabatnya itu.

Sementara Silva tak berkata apa-apa. Tiba-tiba saja kedua matanya terasa basah, hatinya begitu pilu. Ia merasakan begitu hangatnya kasih sayang yang masih diberikan oleh sahabatnya itu. Sebenarnya hati kecilnya tidak percaya kalau Febi tega melakukan semua itu pada dirinya, tetapi fakta dan logika yang dikatakan Dion kepada dirinya semua seolah mengatakan bahwa memang Febi yang melakukan semua itu.

Saat Febi baru beberapa langkah keluar dari kantor polisi, tiba-tiba ponselnya berdering. Ternyata yang menelponnya adalah Vino.

“Kamu dimana Feb?” tanya Vino.

“Lagi di kantor polisi Vin!” jawab Febi.

“Loh, kok gak bilang sama aku mau kesana, kan bisa aku antarin!”

“Gak apa-apa kok! Lagian aku juga udah mau balik nih!”

“Ntar siang aku jemput kamu ya, kita ketemuan sama Omku, kebetulan siang ini beliau lagi ada waktu!”

“Ya deh, aku tunggu di kos ya!”

“Ok!”

Siang itu, Vino menjemput Febi untuk sama-sama pergi ke kantor Om nya Vino yang berprofesi sebagai pengacara. Sebelumnya Vino sudah sedikit menjelaskan tentang kasus yang sedang menimpa Silva. Kali ini mereka bertemu untuk bicara lebih lanjut mengenai bagaimana kira-kira solusi terbaik untuk menghadapi kasus tersebut.

“Kenalin Om ini Febi teman saya!” ucap Vino sambil mengenalkan Febi kepada Om nya.

“Febi om..” ucap Febi sambil bersalaman.

“Saya Om nya Vino, panggil aja Om Darma!” sapa Om Darma.

“Jadi gimana om kira-kira? Apa bisa Silva bebas dalam waktu dekat?’ tanya Vino.

“Hmm..kasusnya lumayan berat Vin! Karena saat kejadian Silva berada disana, terus kita belum tau apa barang bukti juga ada ditangannya, kalau sempat ada, ini bisa menambah berat hukumannya. Apalagi kalau test urine dan terbukti positif Silva pamakai, itu bisa lebih parah lagi!” jelas om Darma.

“Gini om, sebaiknya kan gak ada yang ditutupi, sebenarnya Silva memang pecandu, dan itu juga baru belakangan ini!” ucap Vino.

“Oh ya? Berarti tipis kemungkinan ia bisa bebas begitu saja!”

“Tapi om, apa ga bisa minta keringanan, Silva kan cuma korban om..” lirih Febi.

“Ya saya ngerti..bagaimanapun juga saya akan usahakan sebisa mungkin! Tapi memang untuk kasus narkoba sedikit lebih sulit!”

“Om, gimana kalau kita usulin supaya Silva dipindahkan ke panti Rehabilitasi untuk menjalani perawatan!” usul Vino.

“Ya, om juga sempat berpikir seperti itu, tapi hal itu gak bisa dengan mudah langsung disetujui sama pihak polisi, mereka juga akan minta alasan kuat kenapa kita minta pemindahan tersebut!”

“Om, Silva itu pacandu! Dan udah lumayan parah, bahkan bisa tiap hari dia sakaw kalau gak makai, apa mungkin polisi bisa menjamin keselamatannya kalau tetap ditahan di sel? Kan lebih baik di Rehabilitasi tapi juga tetap dalam pengawasan polisi!” jelas Vino lagi.

“Ya tapi Vin, mereka harus melihat dulu apa benar selama ditahan Silva mengalami hal tersebut, kalau tidak nanti kita bisa dianggap mengarang alasan aja!”

“Melihat dulu? Kalau Silva tiba-tiba seperti itu dan mereka tidak tau harus melakukan apa, gimana dengan nasib Silva om?”

“Vin, mereka bukan kali ini aja menangkap para pecandu atau pengedar narkoba, jadi mereka udah tau bagaimana menghadapi situasi seperti itu! Kamu jangan terlalu berlebihan seperti itu, apalagi Silva perempuan!”

“Saya cuma khawatir om!”

“Ya om ngerti kok! Besok om akan ke sana!”

“Kok besok si om? Kenapa gak hari ini aja?” bujuk Vino.

“Vin, mungkin Om Darma masih sibuk!” potong Febi merasa tidak enak.

“Hari ini om udah ada janji sama orang lain, jadi besok aja om kesana!”

“Gak apa-apa kok om! Terima kasih banyak atas waktu dan bantuannya!” ucap Febi.

“Sama-sama! Kalian jangan terlalu panik ya!”

“Ya udah deh om, kami balik dulu ya! Makasih banyak om!” ucap Vino sambil berpamitan.

Kata-kata om Darma masih terus melintas dalam benak Febi. Mungkin om Darma ada benarnya, gimanapun posisi Silva saat ini memang sangat sulit, apalagi Silva memang pecandu, jadi tipis seka

li ia bisa lolos dari jerat hukum. Rasanya Febi tak sanggup membayangkan jika sahabatnya itu harus melewati hari-harinya ke depan di balik jeruji besi. Bagaimana juga seandainya orang tuanya Silva tau bahwa anaknya tercinta menjadi pecandu narkoba dan saat ini sedang berada di dalam penjara. Perasaan mereka pasti hancur harus melihat kenyataan ini.

“Sabar ya Feb! Mudah-mudahan om Darma bisa bantu kita!” ucap Vino.

“Semoga aja Vin!”

“Tadi kamu ketemu Silva? Terus dia bilang apa ke kamu?”

“Dia masih marah dan menganggap aku yang melaporkannya ke polisi Vin! Dia udah jauh berubah, bukan Silva yang aku kenal dulu!”

“Kamu harus ngerti kondisi dia saat ini! Dia pasti terpukul banget dengan kejadian ini! Kamu jangan pernah menjauh dari dia Feb! Kamu harus tetap bersamanya!”

“Ya aku tau Vin!”

Vino benar. Dirinya saja saat ini begitu sulit menghadapi situasi seperti ini, apalagi dengan Silva. Ia harus melewati hari-harinya dibalik jeruji besi. Belum lagi ketergantungannya terhadap barang-barang haram itu tentu sangat menyiksa dirinya. Febi takut, sangat takut jika Silva menjadi frustasi berat. Karena ia tahu betul bahwa sebenarnya Silva seorang wanita dengan perasaan yang sensitif dan mudah goyah. Buktinya, ia bisa goyah dengan bujuk rayu Dion hingga akhirnya ia terjerumus dalam dunia hitam narkoba.

Febi berpikir, seandainya saja ia bisa setiap saat mendampingi Silva, tentu ia akan terus menemani sahabatnya itu. Keinginan Febi begitu kuat untuk mengembalikan Silva seperti dulu lagi.

Bersambung……

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s