Menyatakan Maaf, Bukanlah Kelemahan Diri

Posted: June 13, 2011 in Coretan Pena....

Kata maaf bisa digunakan dalam banyak arti, tetapi yang paling efektif adalah jika digunakan dalam bentuk terapi untuk memulihkan rusaknya suatu hubungan antar manusia. Kata ini bisa diibaratkan sebagai “pelumas” hubungan antar manusia.

Sayangnya, untuk mengatakan kata maaf ini begitu sulit, ketika kita berniat menerapkannya dalam masalah-masalah serius. Seakan ego kita menyumbat tenggorokan untuk mengeluarkan kata maaf.

Bahkan, kita sering terjebak dalam asumsi yang salah, yakni menyatakan maaf untuk suatu kesalahan yang kita buat, seolah mempertontonkan kelemahahan diri. Padahal, sering terjadi kesalahan kita yang menyebabkan orang lain sakit hati, dilakukan tanpa pikiran yang jernih, tanpa sengaja, dan terbawa emosi. Setelah sadar kita menyesal sendiri, tapi kenapa kata maaf begitu sulit keluar dari mulut kita?

Menyerukan kata maaf, sebaiknya setepat mungkin, baru bisa didapat inti sarinya. Inti kata maaf adalah kerendahan hati karena kita mau mengakui, mau menyatakan diri telah melakukan kekhilafan dan memperlihatkan kebesaran jiwa, yaitu telah mampu melepas ego yang membelenggu.  Dengan demikian, menyatakan maaf dimaksudkan untuk memulihkan hubungan sekarang dan masa-masa selanjutnya.

Kata maaf, bisa keluar menjadi bentuk ejekan pada orang yang kita beri kata maaf tersebut. Bentuk ejekan itu akan terasa jika kita salah melafal dalam alunan nada yang dibuat-buat. orang yang menerima kata maaf dari suara kita akan merasakan bahwa pernyataan maaf itu hanyalah basa basi, dan lebih parah lagi jika dirasakan sebagai ejekan semata. Akibatnya, kata maaf bukan lagi merupakan pernyataan kerendahan hati dan kebesaran jiwa yang telah mengakui kekhilafan diri.

Manipulasi Emosi

Dalam hubungan di lingkup bermasyarakat dan keluarga, pasti tidak terlepas dari masalah manipulasi emosi (perasaan). Ketika mengatakan maaf tidak dilakukan hanya sekedar ucapan, tetapi dilakukan dalam bentuk yang lebih mendalam lagi, yaitu melalui perbuatan yang merupakan perbaikan tingkah laku, berarti inti dari kata tersebut menjadi semakin bermakna.

Meskipun demikian, tidak jarang kita terjebak dalam permainan manipulasi emosi antara pemberi dan penerima maaf itu. Perasaan bersalah atau tanggung jawab sebetulnya adalah sebuah bentuk yang amat halus dari manipulasi emosi.

Ketika seseorang menyatakan maaf melalui perbaikan perbuatannya, maka sadar atau tidak, penggunaan rasa bersalah, rasa berkewajian, dan ketakutan pada orang lain atau pasangan, merupakan pemenuhan kemauan diri sendiri. Dalam hal ini, meminta maaf dan memanipulasi emosi bisa menjadi sebuah lingkaran setan. Hal semacam ini biasanya terjadi dalam relasi dengan teman dan keluarga, yang terkait dengan urusan pendidikan, pekerjaan. dan hubungan antar pasangan.

Masalahnyakemudian, jika kita sudah terjebak dalam permainan manipulasi emosi ini, baik sebagai pelaku atau pihak yang jadi “korban”, maka hal itu bisa menjadi sebuah kebiasaan. Apalagi si pelaku (orang yang meminta maaf) sudah tahu kelemahan kita, maka hal itu akan sering terjadi.

Kadang-kadang, si pelaku tidak sadar telah memanipulasi atau menekan emosi orang lain. “Ilmu” memanipulasi ini dimanfaatkan untuk mencapai keinginannya. Jika dia memakai teknik itu dan merasa sukses, serta tidak ada orang yang memprotes, teknik itu akan dipakai terus menerus. Perbaikan tingkah laku yang menggantikan kata maaf akhirnya hanya menjadi suatu permainan manipulasi emosi dan pemuasan ego semata.

Berikut beberapa petunjuk menghadapi orang yang mulai memainkan ilmu manipulasinya, terutama pada saat menghadapi pertengkaran:

  • Jangan membuat kesalahan dengan mengambil alih kekuasaan. Tarik nafas, tenangkan diri, maka kita bisa ambil energi untuk kejernihan pikiran dan emosi.
  • Waspadalah terhadap sika merasa benar sendiri. Jangan membuat pembelaan diri, jangan membalas teriakan dengan teriakan.
  • Hindarilah pertengkaran yang tak kunjung habis, berlalu secepatnya dengan damai. Jangan terlibat diskusi.
  • Jangan menyinggung kepribadiannya, maka kita bisa terhindar dari sikap intimidasi masing-masing pihak.
  • Selesaikan pertengkaran dengan pikiran yang tetap terkendali. Jangan memperuncing keadaan dengan membongkar masalah yang sudah lalu. Dengan demikian, kita bisa menyelesaikan masalah dengan tidak membuat masalah baru.


Sumber 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s